Sabtu, 08 Mei 2010

Panduan label dan halaman

Rubrikasi dalam blog ini menggunakan fasilitas 'label' yang tersedia. Artikel akan muncul jika dan hanya jika memiliki label yang sesuai (tentu saja menelusuri halaman satu per satu juga bisa memberikan hasil yang sesuai).

Oleh karena itu, sekurang-kurangnya perlu ada satu label yang wajib terdapat dalam tiap-tiap artikel.
  1. Esai
  2. Warisan Budaya
  3. Humaniora
  4. Seni & Budaya
  5. Alam & Lingkungan
Label-label yang lain juga bisa ditambahkan (dipisahkan dengan koma).

















































Esai Warisan Budaya Humaniora Seni & Budaya Alam & Lingkungan
Editorial Masyarakat Tradisi Evolusi & Manusia Purba Pameran & Festival Cagar Alam
Wacana & Inovasi Situs & Artefak Prasejarah Buku & Film Flora
Titir BMKT Sejarah Jejaring & Komunitas Fauna
Wisata & Jalan-jalan Busana Tradisi Nilai & Filosofi Figur


Senjata Tradisi


Cerita Tradisi


Aksara & Prasasti


Apabila Anda kesulitan memberikan label, kosongkan saja, kawan lain akan mengurusi.
Read more >>

Orang Karawang Gaul Sejak Dahulu Kala


KARAWANG, KOMPAS.com--Menurut Robi, 65, si pemburu harta "bekal kubur" dari Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, , dirinya pernah menemukan beraneka barang dan perhiasan yang tak jauh dari kerangka manusia yang ditemukannya. Di antaranya kalung berbagai bentuk dan bahan, penutup bibir, penutup kemaluan wanita, penutup mata, tembikar, serta perhiasan lain yang menurutnya bagus-bagus corak dan modelnya.

Merujuk pada penuturan Robi, ada dua hal yang bisa diungkap. Masyarakat setempat pada zaman protisejarah (awal sejarah)  sekira 2-4 M, sudah cukup modis (baca: gaul), dan juga telah bergaul dengan bangsa lain melalui bukti temuan tembikar yang bercorak Vietnam dan India.

Belum lagi jika "hipotesa" Robi benar bahwa dirinya menemukan tulang aneka warna (kuning, merah, putih, coklat dan hitam) yang menurutnya menandakan golongan (ras), maka boleh jadi Karawang adalah sebuah wilayah yang telah ramai dikunjungi oleh beraneka bangsa.

Hal ini dikuatkan dengan adanya informasi bahwa di daerah Kecamatan Tempuran, Kecamatan Cilebar, banyak ditemukan bekal kubur yang bercirikan adanya tembikar buni yang meluas di pantai Karawang, seperti manik-manik berbahan emas, batu cornelian dan kaca. "Dari manik-manik kaca kita tahu itu produksi luar Indonesia, tepatnya Indo Pasifik. Dari situ mulailah kita menggali di Kecamatan Tempuran, tepatnya di desa Cikuntul. Di sana kita temukan yang tahun lalu itu ada lima individu yang membawa bekal kubur berupa tembikar dengan ciri buni dan tembikar dari vietnam daerah Oc Eo, tembikar India daerah Arikamidu. Dari situ kita dapat melihat, masyarakat pada masa itu sudah memiliki hubungan dengan dunia luar, atau disebut sebagai zaman protosejarah (awal sejarah), " ujar Aemlia dari Puslitbang Arkenas kepada Kompas.com, Kamis (6/5).

Lebih lanjut Amelia menerangkan, protosejarah adalah sebuah zaman di mana masyarakat kala itu belum bisa baca dan tulis namun telah dikenal oleh bangsa lain.







Powered by ScribeFire.

Read more >>

Ada DNA Neanderthal di Tubuh Kita

(Sumber asli: www.antaranews.com)


Washington (ANTARA News) - Manusia Neanderthal dan manusia modern ternyata pernah kawin, kemungkinan besar terjadi ketika manusia pertama kali bermigrasi keluar dari Afrika, demikian sebuah studi genetika yang dirilis Jumat pagi WIB.

Orang Eropa, Asia dan Australasia semuanya memiliki DNA Neantherthal, tetapi orang Afrika tidak, kata para peneliti yang menyampaikan hasil penelitiannya dalam jurnal Science.

Hasil penelitian ini mungkin membantu menjawab perdebatan lama mengenai apakah manusia Neanderthal dan manusia modern hanya hidup berdampingan di Eropa dan Timur Tengah.

"Mereka yang tinggal di luar Afrika membawa sedikit DNA Neanderthal ke tubuh kita," kata Svante Paabo dari Institut Max Planck di Munich, Jerman, yang mengepalai penelitian itu.

"Proporsi material genetik asal Neanderthal kira-kira 1 sampai 4 persen. Memang kecil, tetapi itu proporsi yang benar-benar ada di nenek mooyang orang-orang non Afrika," kata Dr. David Reich dari Fakultas Kedokteran Universitas Harvard di Boston, yang menjadi anggota penelitian itu, kepada wartawan dalam briefing telepon.

Paabo mengaku tidak bisa mengidentifikasi kesamaan prilaku manusia Neanderthal dengan manusia modern sekarang. "Sejauh yang bisa kami katakan bukti-bukti ini hanya bagian acak dari DNA," katanya.

Para peneliti menggunakan metode modern yang disebut peruntutan seluruh genom untuk menguji DNA dari tulang-tulang Neanderthal yang ditemukan di Kroasia, Rusia, Jerman dan Spanyol, termasuk tulang-tulang patah dari seorang manusia gua di Kroasia yang disebut para peneliti sebagai bukti kanibalisme.

Para ilmuwan mengembangkan metode baru untuk mengumpulkan, membedakan dan merunutkan DNA manusia Neanderthal.

"Pada tulang-tulang itu yang usianya 30.000 sampai 40.000 tahun ada bukti teramat kecil DNA," kata Paabo. Dia menyatakan 97 persen atau lebih DNA yang diekstraksi berasal dari bakteri dan jamur.

Mereka kemudian membandingkannya dengan gen manusia Neanderthal dengan DNA lima orang Eropa, Asia, Papua Nugini dan Afrika.

"Analisis mereka membuktikan kekuatan perbandingan genom dan membawa pandangan baru mengenai pemahaman kita tentang evolusi manusia," kata Dr. Eric Green, Direktur Institut Riset Nasional Genom Manusia pada Institut Kesehatan Nasional.

Hasil penelitian mengimbuhkan bukti satu gambaran baru mengenai manusia modern yang hidup berdampingan atau berinteraksi pada tingkat yang paling intim dengan jenis manusia serupa yang kini sudah punah.

"Itu jelas sebuah petunjuk mengenai apa yang secara sosial terjadi manakala manusia Neanderthal bertemu dengan manusia modern," kata Paabo.

"Ada perkawinan pada tingkat tertentu. Saya memilih mewariskan pertanyaan ini kepada mereka yang ingin menjawabnya apakah kita ini spesies terpisah atau tidak. Secara genetis mereka (Neanderhtal) tidak jauh berbeda dari kita," tambahnya.

Perunutan DNA menjejak kembali masa sekitar 80.000 tahun lalu, manakala manusia modern pindah ke Timur Tengah dari Afrika, akan membuatnya sampai di kawasan selatan yang banyak dihuni manusia Neanderthal.

Para peneliti mengidentifikasi lima gen unik pada manusia Neanderthal, termasuk tiga gen kulit. "Bukti ini menujukkan bahwa sesuatu dalam fisiologi atau morfologi kulit manusia telah berubah," kata Paabo.

Bulan Maret lalu Paabo dan koleganya melaporkan bahwa mereka menemukan spesies manusia yang tidak dikenal yang kemungkinan hidup 30.000 tahun lalu, di samping manusia modern dan manusia Neanderthal di Siberia.

Selama bertahun-tahun para peneliti berspekulasi mengenai beberapa perbedaan dalam spesies manusia yang tinggal berdampingan di masa awal jutaaan tahun lalu. Banyak diantaranya hidup di kawasan tropis di mana sisa tulang tidak terpelihara.

Paabo mengatakan manusia Afrika modern mungkin membawa sejumlah DNA tak dikenal, andai mereka tidak membawa DNA nenek moyang manusia Neanderthal.
Read more >>

LELANG HARTA KARUN. Sistem Lelang di Indonesia Tidak Fair

harta karun nasional

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur PT Paradigma Putra Sejahtera, Adi Agung Tirtamarta mengatakan, sistem lelang di Indonesia tidak fair. Adi mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 49 Tahun 1985 tentang Izin Survei dan Pengangkatan barang-barang muatan kapal tenggelam. Keppres tersebut mengatur, dari hasil lelang, investor-pemerintah mendapat masing-masing 50 persen.

"Seharusnya, sistem bagi hasil dilakukan setelah hasil lelang dikurangi biaya pengangkutan," ujar Adi kepada para wartawan di Pamulang, Jawa Barat, Selasa (4/5/2010). Paradigma Putra Sejahtera merupakan mitra lokal perusahaan penyelaman milik Luc Heymans, Cosmix Underwater Research Ltd. Mereka bekerja sama mengangkat barang-barang yang berada di kapal karam di perairan utara Cirebon, Jawa Barat.

Selain itu, dirinya juga menganggap syarat penyerahan uang jaminan penawaran lelang sebesar 20 persen dari nilai lelang berlebihan. Syarat yang ditetapkan Menteri Keuangan ini dinilai memberatkan calon peserta lelang. "Di tingkat internasional, tidak ada syarat seperti itu. Balai Lelang Christy, misalnya, tidak pernah meminta uang jaminan lelang," katanya.

Sebenarnya, penetapan syarat ini juga berlaku untuk pelelangan barang sitaan, gedung, dan lainnya. Namun, Adi berharap para pelelang benda seni memeroleh pengecualian.

Hal yang sama disampaikan Sekjen Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam Sudirman Saad kepada Kompas.com. "Kami sudah meminta agar syarat uang jaminan dikurangi. Bahkan, jika memungkinkan, uang jaminan diganti surat garansi. Namun, syarat ini sepertinya ditolak," ujar Saad.

Lelang harta karun untuk pertama kalinya yang rencananya digelar Rabu (5/5/2010) besok terancam gagal. Sampai berita ini dilaporkan, belum ada satu pun calon peminat yang menyetorkan uang jaminan.

Read more >>

Istri Fadel Tinjau Gudang Harta Karun

BMKT
JAKARTA, KOMPAS.com — Istri Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Hana Hasanah, Selasa (4/5/2010) sore, meninjau gudang penyimpanan harta karun yang ditemukan di perairan utara Cirebon, Jawa Barat, di area Pacuan Kuda Pamulang.

Begitu tiba di lokasi, Hana yang didampingi pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan langsung disambut oleh Presiden Direktur PT Paradigma Putra Sejahtera Adi Agung Tirtamarta dan pemilik Cosmix Underwater Research Ltd Luc Heymans.

Hana pun langsung dipersilakan masuk ke dalam gudang. Adi menunjukkan koleksi barang berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT) yang ditemukan dari sebuah kapal karam.

Benda tersebut antara lain sarung golok emas dan rock crystal yang diyakini milik anggota keluarga Nabi Muhammad. Hana tampak antusias dan serius menyimak penjelasan Adi dan Luc.

Hana juga menyempatkan diri berfoto dengan sebuah guci yang ditunjukkan oleh Luc. Di gudang tersebut, Hana meninjau selama lebih dari 30 menit. Setelah itu, Hana pun langsung pergi meninggalkan gudang tersebut.


Read more >>

Tiada Henti Menebar Edukasi di Merapi

Magelang (ANTARA News) - Lelaki tua berpeci dan berbaju batik dengan rambut yang sedikit beruban itu duduk di deretan bangku di luar gedung yang oleh masyarakat petani setempat dinamai "Gubug Selo Merapi".

Gedung itu sebelumnya menjadi bagian dari kompleks sekolah kecil bernama Sekolah Dasar Kanisus Grogol, terletak di Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer sebelah barat puncak Gunung Merapi.

Sekitar 13 tahun lalu pihak yayasan yang menaungi sekolah itu mengeluarkan kebijakan menutup operasional sejumlah sekolahnya yang salah satunya SD Kanisus Grogol lantaran jumlah siswa yang semakin sedikit seiring dengan perkembangan kependudukan.

"Tahun 1997 sekolah ini ditutup oleh yayasan, tidak tahu persis alasan penutupan, tetapi secara umum karena jumlah anak yang semakin sedikit, terakhir kalau tidak salah ada 65 anak kelas I hingga VI," kata Supangat (70), mantan Kepala SD Kanisius Grogol (1982-1992) di utara aliran Kali Senowo yang airnya berhulu di kaki Merapi.

Meski akhir cerita sekolah itu ditutup, rupanya semangat edukasi yang telah ditebarkan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah itu tak padam. Masyarakat setempat makin memiliki kesadaran mantap terhadap pentingnya pendidikan.

Mereka terkesan terus bergerak menebarkan nilai-nilai edukasi dalam skala yang makin luas, tidak sekadar pendidikan formal untuk anak-anak Merapi.

Pada Minggu (2/5), Supangat bersama ratusan warga petani holtikultura berasal dari berbagai dusun di lereng Merapi merayakan Hari Pendidikan Nasional 2010.

Perayaan itu sekaligus dikemas untuk pesta rohani pelindung GSPi "Santo Petrus Kanisius", tokoh gereja yang secara khusus bergerak di bidang pendidikan. Perayaan dikemas dalam prosesi anak-anak dan misa kudus dipimpin Romo Singgih Guritno di bangunan terbuka, GSPi.

Bekas ruang kelas masih tersisa, komunitas petani setempat melalui bantuan dari berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri secara tekun membangun gedung yang terkesan akrab dengan ekologi Merapi yang kemudian mereka namai GSPi. Gedung itu kini menjadi pusat kegiatan budaya, spiritualitas, religi, dan sosial kemasyarakatan.

Seakan lelaki itu mengenang para murid dan suasana pendidikan ketika sekolah yang berada di tepi jalan menuju Pos Pengamatan Merapi di Desa Babadan, sekitar empat kilometer sebelah barat puncak Merapi itu, masih beroperasi.

"Bahkan tiga anak saya dulu juga sekolah di sini, kepala sekolah yang terakhir Pak Warso (Suwarso, red.), saya Tahun 1992 dipindah menjadi Kepala SD Kanisus Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun hingga pensiun Desember 2001," katanya.

Sekolah yang dibuka pada Tahun 1927 itu pernah menjadi tumpuan masyarakat petani setempat antara lain berasal dari Dusun Kajangkoso, Grogol, Bendo, Mangunsuko, Muntuk, Dadapan, dan Semen untuk anak-anak mereka mengenyam pendidikan formal.

Setelah ditutup, katanya, orang tua setempat menyekolahkan anak-anak di SD Negeri Mangunsuko sekitar 200 meter dari lokasi GSPi sedangkan lainnya menyekolahkan di SD Kanisius Tumpang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sekitar 10 kilometer dari GSPi.

Meski sekolah itu tutup, komunitas petani setempat tidak menutup buku terhadap proses pembelajaran. Mereka di bawah pendampingan intensif budayawan dan rohaniwan Katolik setempat, Romo Vincentius Kirjito, terus mengembangkan misi pendidikan GSPi.

Sejak beberapa tahun terakhir, GSPi mengembangkan program "live in" terutama untuk anak-anak SLTP hingga perguruan tinggi yang ingin belajar tentang kehidupan desa, pertanian, ekologi, dan komunitas petani Merapi.

Jumlah mereka yang pernah menjalani "live in" di kawasan itu kemungkinan sudah mencapai puluhan ribu anak. Mereka berasal dari berbagai sekolah di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Bahkan secara berkala sejumlah sekolah seperti di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Magelang mengirim murid-muridnya untuk "live in" minimal selama tiga hari tiga malam di tempat itu. Mereka tinggal di rumah-rumah warga setempat dan menjalani berbagai kegiatan harian para petani baik di rumah maupun di lahan pertanian, sambil menjalani proses edukasi ekologi yang dikembangkan komunitas GSPi.

"Saat ini saja ada enam mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang sedang survei untuk `live in` kawan-kawan mereka," kata tokoh GSPi, Fransiskus Xaverius Sutar.

Minimal sebulan sekali, katanya, ada rombongan "live in" baik siswa maupun mahasiswa berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Beberapa bulan lalu beberapa mahasiswa berasal dari sejumlah negara juga "live in" di tempat itu.

Program "live in" bukan saja proses penebaran nilai-nilai edukasi kepada anak-anak kota tetapi juga menjadi ajang pembelajaran dan peningkatan sumber daya manusia petani Merapi.

"Kalau sering didatangi tamu tentu kami juga harus menata diri, belajar menjadi tuan rumah yang baik, belajar lebih giat tentang sopan santun, semakin baik dalam merawat rumah dan pertanian agar bisa menjadi bahan belajar mereka secara pantas, dan kalau kami rawat lebih tekun, hasil pertanian menjadi lebih baik. Kami sendiri juga ikut belajar," katanya.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2010, komunitas petani setempat mencanangkan gerakan yang mereka namai "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" sebagai wujud kesadaran masyarakat Merapi terhadap pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka.

"Masyarakat kami semakin menyadari bahwa pendidikan semakin mahal," kata Sutar yang lulus SD Kanisius Grogol pada Tahun 1980 itu dan kemudian melanjutkan pendidikan formal hingga SMA.

Pencanangan gerakan itu ditandai dengan perarakan puluhan anak Merapi mengenakan pakaian jatilan kontemporer diiringi gamelan dari halaman rumah petani di ujung dusun itu menuju Gedung GSPi yang berjarak sekitar 500 meter.

Anak-anak itu membawa puluhan bumbung berbagai ukuran dicat warna merah sebagai tempat celengan. Bumbung diserahkan mereka kepada Romo Singgih sebagai simbol penyerahan gagasan orisinil anak-anak tentang gerakan menabung itu kepada orang tua agar menyisihkan uang receh mereka secara tekun untuk biaya pendidikan.

Prosesi pencanangan gerakan "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" itu ditata oleh seniman petani setempat Susanto.

Setiap keluarga petani memasang bumbung celengan itu di rumah masing-masing. Setiap saat mereka menyimpan uang receh di bumbung dan seminggu sekali menyetorkan kepada pengelola tabungan itu di GSPi untuk selanjutnya dicatat dan disetor ke salah satu bank yang telah mereka sepakati.

"Paling cepat setahun sekali tabungan dibongkar untuk diserahkan kepada warga sebagai biaya sekolah, orang tua yang tidak punya anak juga menabung tetapi ketentuannya lima tahun sekali tabungan mereka dibongkar," kata Sutar yang juga koordinator gerakan "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" itu.

Petani setempat, katanya, menyebut gerakan mereka menabung itu sebagai "ngopeni receh" atau memanfaatkan uang kecil.

"Uang sisa belanja di pasar, uang receh sisa beli pupuk dan bibit tanaman, atau sisa naik angkutan dimasukkan bumbung, ditabung karena kami sadar bahwa pendidikan butuh biaya," katanya.

Romo Singgih mengapresiasi gagasan edukatif komunitas petani setempat berupa tabungan pendidikan itu.

Ia mengemukakan, bukan jumlah tabungan yang relatif banyak yang mereka kejar, tetapi ketekunan mereka mengumpulkan uang receh itu sebagai proses pendidikan bukan saja bagi para orang tua dan anak-anak setempat.

"Tapi bisa menjadi pembelajaran untuk masyarakat dalam skala yang lebih luas, bahwa pendidikan adalah proses yang terus menerus berjalan dan dijalani secara tekun. Ada kesetiaan tentang perhatian terhadap anak, sedikit demi sedikit. Ini proses dan keutamaan yang harus dirawat, kebiasaan ini dihayati sebagai wujud cinta kasih," katanya.

Mungkin saja cita-cita pendidikan oleh komunitas setempat atas anak-anak mereka tidak terlalu muluk.

Setidaknya proses pendidikan yang mereka tebar secara terus menerus di kawasan itu terutama untuk membangun kemandirian, memantapkan identitas kultural, dan jati diri sebagai petani Merapi.

Sekolah mereka memang telah tutup, tetapi pembelajaran mereka tiada berkesudahan.

Read more >>

BENTENG SUROSOWAN, SISA KEBESARAN NEGERI BANTEN

PARA wanita cantik itu keluar dari kaputren, lalu dengan gemulai menuruni anak tangga menuju pemandian Rara Denok. Tidak lama kemudian, mereka sudah asyik berendam di kolam berair bening. Tawa renyah terdengar dari mulut mereka, ditingkahi gemercik air yang mengalir dari pancuran. Para putri keraton itu biasanya betah berlama-lama saat membersihkan diri pada pagi dan sore hari.

Seperti itulah kebiasaan mandi para putri kalangan Kesultanan Banten pada masa lampau. Pemandian tersebut berada di dalam Kompleks Keraton Surosowan yang kini berada di kawasan Banten Lama, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kab. Serang, atau sekitar 10 kilometer di utara Kota Serang. Lokasi keraton terletak di sebelah selatan Masjid Agung Banten.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 30 meter dan lebar 14 meter. Sementara kedalamannya mencapai 4,5 meter. Di tengah pemandian terdapat kolam yang ukurannya lebih kecil, tempat istirahat bernama bale kambang. Terlindungi oleh benteng yang tinggi dan pintu yang kokoh. Dengan demikian, para wanita akan merasa aman dan nyaman di tempat tersebut.

Namun, kini keindahan pemandian kelas VIP itu hanya menyisakan air kotor hijau. Tembok kolam bagian luarnya hanya tersisa sekitar 0,5 meter. Meski demikian, batu bata merahnya masih tampak kuat dengan kualitas bangunan yang bagus. "Rupanya kolam ini menyimpan banyak cerita tentang kecantikan putri keraton, ya," ujar Hazairin Sueb (45), seorang pengunjung asal Tasikmalaya.

Sebenarnya bukan hanya memyimpan cerita tentang para putri keraton, Rara Denok juga menjadi bagian penting dari sentuhan teknologi pengairan yang sangat maju pada zamannya. Air untuk memenuhi kebutuhan kompleks keraton dialirkan dari danau buatan bernama Tasik Ardi yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan keraton. Danau tersebut dibuat pada masa Sultan Maulana Yusuf (1570-1580 M)

Sebelum masuk ke kompleks keraton, air yang dialirkan melalui pipa dari tanah liat itu harus melalui tiga tahap penyaringan. Bangunan tempat penyaringan itu menyerupai gerbong kereta api yang disebut pangindelan. Penyaringan pertama disebut Pangindelan Abang, kemudian Pangindelan Putih, dan terakhir Pangindelan Mas. Pembangunan saluran air tersebut dibuat pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M) dengan melibatkan arsitek Belanda bernama Hendrick Lucasz Cardeel.

Semua bangunan pangindelan hingga kini masih berdiri kokoh, tetapi tidak lagi berfungsi seperti dulu. Bagian dalam mengeluarkan bau tidak sedap karena dipakai sarang kelelawar. Sementara Tasik Ardi yang berluas 6,5 hektare dan dulu sering dijadikan tempat rekreasi keluarga keraton, kini menjadi salah satu tempat wisata favorit bagi warga Banten.

Dirusak dan dibakar

Ketika berniat mengunjungi Keraton Surosowan, jangan bayangkan satu keraton dengan bangunan utuh, seperti Keraton Cirebon atau Yogyakarta. Apalagi, membayangkan di dalamnya bertakhta seorang raja yang menjadi simbol budaya masyarakat setempat. Surosowan hanya puing-puing hampir rata dengan tanah yang berada dalam benteng. Luas keseluruhannya mencapai sekitar 4 hektare.

Menurut berbagai sumber bacaan, Istana Surosowan dibangun Panembahan Hasanuddin, sultan pertama Banten (1526-1570 M). Sebutan Surosowan sebagai nama keraton, berkembang menjadi nama wilayah kekuasaan. Bahkan, kemudian, nama resmi kerajaan Islam di Banten adalah Negeri Surosowan.

Pada mulanya kompleks keraton tidak semegah seperti tercermin dari reruntuhannya. Namun, pada masa Sultan Abdulfatah (Sultan Ageng Tirtayasa), dalam kaitan jalinan persahabatan internasional, sejumlah teknisi Eropa diundang. Selain dilibatkan dalam pembuatan kapal-kapal niaga, mereka juga dilibatkan dalam perbaikan kompleks Keraton Surosowan.

Istana megah itu kemudian dibuat lebih indah dan lebih tahan dari berbagai serangan. Di dalamnya dibangun pancuran dan kolam pemandian. Di sekelilingnya dibangun tembok terbuat dari bata merah yang cukup tebal. Pada sudut-sudut benteng dibangun menara penjaga (bastion). Jalan masuk ke istana, berbentuk busur, diberi dinding bata pada kedua tepinya untuk menghindari pengintaian dari luar.

Dalam sejarahnya, keraton ini mengalami beberapa kali kehancuran. Antara lain ketika terjadi peperangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan anaknya sendiri, Sultan Haji, yang bekerja sama dengan penjajah Belanda. Meski kemudian diperbaiki lagi, perlawanan dari rakyat terhadap Sultan Haji terus berlangsung dan membuat keraton rusak lagi.

Akan tetapi, kerusakan yang paling parah terjadi pada masa Sultan Aliuddin II (1803-1808). Ketika Herman Willem Daendels meminta Sultan agar mengirimkan seribu pekerja rodi untuk membangun jalur jalan Anyer-Panarukan. Selain itu, juga meminta agar Patih Mangkubumi Wargadiraja diserahkan dan ibu kota kesultanan dipindahkan ke Anyer karena di sekitar Surosowan akan dibangun benteng Belanda.

Tentu saja permintaan tersebut ditolak mentah-mentah. Terjadilah peperangan hebat yang berakhir dengan penaklukan Surosowan dan penangkapan Sultan Aliudin II lalu dibuang ke Ambon. Sementara Patih Mangkubumi Wargadiraja dihukum pancung. Perlawanan rakyat Banten tidak berhenti. Pada 1809, Daendels menghancurkan dan membakar Sorosowan. Puncak kerusakan keraton tersebut terjadi pada tahun 1813.

Benteng utuh

Memang bangunan Keraton Surosowan tidak ada lagi yang utuh. Semuanya nyaris rata dengan tanah. Namun, dengan melihat reruntuhan itu, akan terbayang semegah apa bentuk fisik istana tersebut. Beruntung, para pelancong agak terhibur dengan melihat benteng keraton yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Meskipun benteng keraton masih kokoh, kelihatan sekali bangunan itu kesepian dan tidak terurus. Sampah bertebaran di mana-mana, di sana sini sudah ada kerusakan pada tembok benteng. Padahal, benteng ini satu-satunya peninggalan di kompleks keraton yang relatif masih utuh..

Bagi sebagian orang, beberapa bagian pada benteng itu sering dijadikan tempat untuk bersemedi. Biasanya, mereka menempati ruang-ruang kecil bekas tempat penjagaan. Mereka tidak peduli tempatnya pengap dan becek. Di beberapa ruang kecil itu masih terdapat bekas alas tidur dan sisa-sisa ritus.

Merekonstruksi bangunan keraton merupakan sesuatu yang sulit dilakukan dan membutuhkan biaya mahal. Biarlah reruntuhan itu menjadi saksi kehebatan rakyat Banten yang tidak mau tunduk kepada penjajah. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah memelihara yang masih tersisa. Maka, semestinyalah keberadaan benteng itu mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah setempat.
Read more >>

Mengenal Aksara Kawi (Jawa Kuno)

Sedikit demi sedikit cita-cita untuk mendokumentasikan aksara Nusantara, semakin mendekati kenyataan. Walaupun memakan waktu cukup lama aksara Nusantara yang berserakan entah dimana, satu-satu terkumpul juga dan sampai saat ini sudah 10 aksara nusantara yang berhasil dikumpulkan, ini berkat bantuan sahabat-sahabat baik di Kompasiana maupun di FB yang tergabung di Madya Indonesia (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya).

Kemarin malam saya menerima kiriman contoh Aksara Kawi (Jawa Kuna) dari Sahabat Facebook yang bernama Cahyo Ramadhani dan pada saat itu juga saya mencoba membuat font Aksara Kawi yang saya beri nama Kawi.ttf yang bisa di-download DI SINI. Metode pembuatan berbeda dengan yang saya lakukan berbeda dengan metode yang terdahulu. Dulu, saya jiplak tiap hurup dengan Corel Draw, tapi sekarang berhubung bentuknya agak rumit, sehingga dengan metode jiplak akan memakan waktu cukup lama, saya potong-potong langsung Aksara Kawi tersebut dengan Adobe Photo Shop, kemudian tiap hurup tersebut di-mapping font-nya menggunakan font creator.

Seperti aksara Nusantara yang lainnya, aksara Kawi ini terdiri dari Hurup Utama yang disebut Aksara Induk, tanda diakritik, dan hurup pasangan, dengan mapping pada Keyboard seperti berikut.

AKSARA INDUK

aksara-kawi

TANDA DIAKRITIK

diakritik

AKSARA PASANGAN

pasangan

Kompasianer yang mengetahui tentang Aksara Kawi dimohon masukannya, ada beberapa yang membingungkan, di antaranya huruf yang berbunyi sa ada 3 bentuk.

(Disajikan di sini seizin sahabat Wawan Supriadi. Sumber asli ada di Kompasiana.com)

Read more >>

"Manusia Kuno" Bermunculan di Batujaya

JAKARTA, KOMPAS.com--Setelah penemuan kerangka manusia masa akhir prasejarah bertambah dari lima menjadi enam kerangka, sepanjang Kamis (6/5), Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mulai agak ramai. Warga datang silih berganti menyaksikan temuan itu dan melihat langsung proses penggalian dan pengangkatan di kompleks percandian tertua di Pulau Jawa itu (abad V-VII).

Pengangkatan dilakukan setelah dilakukan perekaman data dengan cermat berupa pemotretan , penggambaran dengan manual, dan pengukuran lapisan tanah dengan rinci oleh arkeolog Juliadi dan timnya dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang. Pengangkatan dilakukan Juliadi bersama Johan Arif, peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tak hanya penggalian dilakukan dengan sangat hati-hati, saat pengangkatan juga. Untuk mengangkat tengkorak saja, lamanya sekitar satu jam. Usai tengkorak, dilanjutkan pengangkatan kerangka bagian lainnya. Sepanjang Jumat (7/5) pengangkatan diteruskan.

Rencananya, enam kerangka manusia prasejarah atau tepatnya protosejarah yang ditemukan di kompleks perluasan areal Candi Blandongan bagian tenggara itu, akan diangkat seluruhnya. Perlu beberapa hari untuk mengangkatnya, kata Juliadi.
Kerangka yang sudah diangkat dicatat dan kemudian disimpan per bagiannya dalam plastik, guna memudahkan untuk merekonstruksi dan mengidentifikasinya. Identifikasi melalui uji karbon radioaktif (C-14 dating) dan tes DNA, serta isi gerabah yang berada di dekat rangka.

Kerangka manusia protosejarah yang sudah diangkat itu disimpan sementara di kantor BP3 Serang di Batujaya. Selanjutnya bisa menjadi obyek penelitian ahli, guna mengetahui secara tepat umur kerangka, jenis kelamin, dan rasnya, apakah dari ras Mongoloid seperti pernah ditemukan sebelumnya di sekitar candi atau Australomelanesoid, ungkapnya.

Saat pengangkatan kerangka, juga ditemukan dua logam panjang yang diduga merupakan senjata milik manusia yang dikubur itu.

Kalau sudah selesai diteliti, kerangka bisa dipajang di museum agar masyarakat bisa mengapresiasi warisan budaya yang unik dan menarik ini.

Secara kebetulan

Juliadi menjelaskan, Tim BP3 semula melanjutkan proses pemugaran Candi Blandongan, di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, berupa pengembangan dan penataan kawasan candi seluas 120 x 120 meter bujur sangkar.
Untuk mencari strukturisasi bangunan candi, dilakukan penggalian di areal perluasan candi yang merupakan areal persawahan, yaitu di sisi tenggara dan di barat laut. Penggalian pada minggu kedua April 2010, berhasil menemukan menhir berukuran panjang 2,1 meter dan 2,2 meter, di tenggara halaman candi, titik koordinasi G-9. Penggalian berikutnya, 22 April 2010, masih di sebelah tenggara halaman candi, sekitar 5 meter dari temuan menhir, secara kebetulan ditemukan kerangka manusia.

Enam kerangka manusia itu ditemukan terkubur di kedalaman lebih kurang satu meter dari permukaan tanah sawah. Posisinya berjejer dengan arah yang relati f sama, yakni 60 derajat ke timur laut. Empat dari enam kerangka yang ditemukan terlihat utuh, dua lainnya tidak utuh. Panjang kerangka lebih kurang 170 cm. Jarak antara kerangka yang satu dengan kerangka lainnya sekitar 90 cm.

Pada awalnya ditemukan kerangka lutut . Setelah dilanjutkan penggalian, kerangka manusia itu terlihat utuh dari kepala sampai kaki. Di antara kerangka itu terdapat senjata sejenis logam yang berada di bagian dada kerangka.

Tak jauh dari penemuan kerangka yang pertama , sekitar 90 cm di samping kerangka itu, ditemukan lagi kerangka manusia lainnya. Dua kerangka menumpuk dalam satu kubur, sehingga terlihat lebih panjang. Di dekat masing-masing kerangka terdapat barang tembikar , baik dalam kondisi utuh maupun sudah pecah, serta benda dari logam. Juga ada temuan rangka binatang siput laut berukuran relatif besar.

Benda-benda dekat kerangka itu merupakan bekal kubur yang disertakan pada mayat, yaitu tembikar seperti tempayan atau periuk kecil (kendil) dan alat-alat dari logam atau besi yang merupakan persenjataan milik orang yang dikubur, jelas Junaidi.

Budaya Buni
Arkeolog Agustijanto Indradjaya dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (lihat www.tapakarkeologi.blogspot.com), di dunia arkeologi, situs Batujaya dengan kompleks percandian yang bersifat Buddhistik, merupakan obyek penelitian menarik. Sejak tahun 1960-an sudah menjadi obyek penelitian para arkeolog, yang dimotori RP Soejono dan Sutayasa. Arkeolog dan warga penggali liar seperti berlomba menggali kubur-kubur prasejarah, yang tersebar di wilayah pantai utara Jawa. Penggali liar menggali kubur pras ejarah itu untuk mencari emas.

Awalnya kubur-kubur prasejarah itu ditemukan di desa Buni (Bekasi) dan kemudian daerah perkembangannya di arah timur di daerah sungai Citarum dan Sungai Bekasi, hingga Ciparage di Cilamaya.

Istilah budaya kompleks tembikar Buni ini muncul ketika adanya persamaan corak hiasan dari fragmen tembikar yang ditemukan di beberapa tempat di Bekasi dan Cikampek. Menurut laporan, beberapa situs Buni yang pernah diteliti antara lain di Buni, Kedungringin, Cabangbungin dan Balaktemu di Bekasi. Batujaya, Kobak Kendal, Cilebar Babakan Pedes di daerah Rengas Dengklok, tulisnya.

Arkeolog yang juga Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Harry Widianto mengatakan, baru tahun 2005 sampai sekarang menusia pendukung budaya Buni ini berhasil diungkap lebih jauh.

Komunitas masyarakat yang mengusung budaya kompleks tembikar Buni yakni satu komunitas masyarakat prasejarah yang menghasilkan tembikar dengan pola hias khas Buni, yang hidup di sepanjang pantai utara Jawa Barat mulai dari Banten sampai Cirebon. Hal ini didasarkan pada temuan sejumlah kerangka manusia yang disertai dengan sejumlah bekal kubur di antaranya yang paling umum adalah wadah tembikar.
Wadah tembikar yang paling dominan adalah berupa periuk kecil (kendil) berdiameter antara 10-15 cm beserta tutupnya, piring dengan bibir tepian tegak, dan mangkuk. Wadah-wadah tembikar ini diletakkan di bagian kepala atau bagian kaki dari kerangka. Selain wadah tembikar, biasanya dibekali pula dengan senjata tajam berupa parang, pisau, atau tombak. Yang menarik, bagi sebagian kerangka diberi perhiasan berupa kalung, cincin, penutup mata, dan gelang. Kalung terbuat dari manik-manik emas dan manik-manik kaca, hal ini menandakan adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat pendukung tembikar Buni.

Temuan berupa bandul jala, kapak batu, dan tatap pelandas memberi informasi bahwa masyarakat tembikar Buni bermata pencaharian sebagai nelayan. Mereka juga telah mengenal bercocok tanam dan sebagian telah memiliki keahlian membuat wadah-wadah tembika den gan teknologi tatap pelandas. Selain itu, merekja telah memiliki keahlian membuat alat-alat logam dan manik-manik.

Ras Mongoloid

Harry menjelaskan, kerangka manusia di komplek kubur yang ditemukan, baik tahun 2005 dan April 2010 di Desa Segaran, Kecamatan Batujaya , Kabupaten Karawang, merupakan manusia prasejarah atau tepatnya periode protosejarah, sekitar abad 1 Sebelum Masehi sampai 2 Masehi, berhasil ditemukan di situs Batujaya.

Tahun 2005 berhasil ditemukan 10 kerangka manusia prasejarah dan sekarang enam kerangka manusia prasejarah di situs Batujaya. Dari penemuan kerangka manusia prasejarah itu mengungkapkan, betapa mereka sebenarnya satu masyarakat yang telah memiliki teknologi yang cukup memadai untuk mengelola lingkungannya pada masa itu.
Masa protosejarah adalah masa di mana masyarakat lokal belum mengenal tulisan tetapi daerah ini sudah dikenal, didatangi, dan dicatat oleh masyarakat internasional, serta telah terjadi kontak yang cukup intensif dengan mereka.

Rangka manusia yang ditemukakan itu, menurut Harry bukanlah kerangka manusia purba. Bukan juga fosil. Dia adalah manusia di akhir praserajah.

Berdasarkan pada karakter morfologis kranial dan gigi geliginya, ia merupakan ras mongoloid, tandasnya.

Aspek penting dari temuan itu, menurut Harry yang pernah melakukan penelitian tahun 2005 terhadap kerangka manusia di Situs Batujaya, adalah mewakili populasi masa lalu dari peralihan zaman prasejarah ke zaman sejarah. Populasi seperti ini juga ditemukan di Pedes, sebelah tenggara Batujaya, oleh arkeolog Amelia dari Puslitbang Arkenas sejak tahun 2009 kemarin.

Amelia sampai sekarang masih melakukan penggalian, saya 13-17 Mei akan menganalisis rangka-rangka itu di lapangan, ujarnya.

Read more >>

Gerabah dan Kapak Perunggu Ditemukan di Jayapura

Jayapura (ANTARA News) - Masyarakat di sekitar Kabupaten Jayapura berhasil menemukan gerabah dan kapak perunggu yang diduga berasal dari zaman prasejarah di lokasi yang berbeda.

Ketua Tim Peneliti Balai Arkeologi Jayapura, Hari Suroto, kepada ANTARA, Senin, mengakui, temuan pertama yakni gerabah yang diduga berasal dari masa sekitar 1.500 SM (sebelum masehi), ditemukan di Kampung Kalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, saat dilakukan penggalian di kawasan itu.

Pecahan gerabah itu ditemukan warga Selasa lalu (27/4), kemudian dilaporkan ke distrik dan kemudian dilaporkan ke Balai Arkeologi Jayapura.

Dari hasil penelitian terungkap pecahan gerabah itu berasal dari zaman neulithikum dan dari referensi terungkap jenis serupa pernah ditemukan di Vanimo, Papua Nugini, tahun 1996.

Gerabah jenis "Lapita" itu penyebarannya di kawasan Pasifik dan Kepulauan Bismark.

Sedangkan "kapak perunggu" ditemukan Kwadeware, Distrik Waibu, diduga berasal dari masa 300 SM dan berasal dari Dong Son, Vietnam Utara.

Menurut Hari, kapak perunggu itu dibawa orang-orang ras Austronesia yang diduga menyebar di kawasan pesisir pantai utara Papua.

Namun, kata Hari, kapak tersebut tidak diserahkan ke Balai Arkeologi melainkan disimpan ondoafi Kwadeware.

Selain kedua peninggalan itu, para peneliti arkeologi juga berhasil menemukan gua zaman mesolithikum yang di dalamnya terdapat alat serpih yang biasa digunakan untuk memotong dan menguliti hewan hasil buruan.

Ditambahkan, alat serpih yang ditemukan di kawasan Ayapo, Distrik Sentani Timur dan Baborongko, Distrik Ebungfau, itu berusia sekitar 10 ribu SM dan berasal dari ras Austromelanesia.

Alat serpih itu sebelumnya pernah ditemukan di Fak fak, Provinsi Papua Barat tahun 1930 oleh peneliti asal Belanda, jelas Hari Suroto.

Read more >>

Cak Nun: Masyarakat Butuh Dakwah Kultural

cak nun
Magelang (ANTARA News) - Budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) mengemukakan, masyarakat membutuhkan dakwah kultural sebagai upaya menggali nilai kebudayaan bangsa yang berguna untuk penyaring derasnya arus industrialisasi.

"Dakwah kultural dibutuhkan terutama di desa-desa, kebudayaan harus diapresiasi," katanya saat memimpin grup musiknya, "Kiai Kanjeng", menyampaikan pengajian akbar di Kampus II Universitas Muhammadiyah Magelang, di Magelang, Jumat malam.

Pengajian yang diselenggarakan Pengurus Daerah Muhammadiyah Kota dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu untuk menyongsong Muktamar ke-46 Muhammadiyah di Yogyakarta, 3-8 Juli 2010.

Ia mengatakan, kekayaan dan keragaman kebudayaan Indonesia harus terus menerus dilestarikan dan dikembangkan oleh berbagai kalangan masyarakat.

"Masyarakat harus bangga dengan budaya bangsa, jangan lupakan kebudayaan. Kalau masyarakat tidak mengurusi kebudayaan, akan diisi oleh gencarnya industri," katanya.

Ia mengatakan, masyarakat harus secara sungguh-sungguh mengerahkan kemampuan untuk berbagai upaya pelestarian budaya bangsa.

"Indonesia dengan keragaman budaya bisa menjadi pemimpin dunia pada masa mendatang," katanya.

Hadir pada kesempatan hingga menjelang tengah malam itu antara lain Wakil Bupati Magelang, Zaenal Arifin.

Cak Nun yang didampingi isterinya, Novia Kolopaking, bersama grup Kiai Kanjeng menyuguhkan sejumlah lagu kontemporer terutama bernuansa islami.

Read more >>

"The Colourfull Of Borobudur" Menguras Energi Seniman

pameran seniman borobudur
Borobudur, Jawa Tengah (ANTARA News) - Pameran lukisan bertajuk "The Colourfull of Borobudur 2010" sebagai ungkapan para seniman sekitar Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menguras energi dan eksplorasi mereka sehingga menghasilkan karya seni yang bermakna.

"Kami mencoba menuangkan secara total segala energi untuk menghasilkan karya-karya yang dipamerkan selama sebulan ini," kata Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Umar Khusaeni, di sela pembukaan pameran itu di Borobudur, Kamis.

Pameran sekitar 50 lukisan berbagai ukuran di atas kanvas oleh sekitar 30 seniman KSBI hingga Tanggal 6 Juni 2010 itu berlangsung di "Manohara Center of Study Borobudur" di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB).

Objek lukisan mereka tak hanya soal candi peninggalan abad ke-8 masa Dinasti Syailendra itu, tetapi juga menyangkut berbagai gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat pedesaan di kawasan Candi Borobudur.

"Karya teman-teman menjadi lebih hidup karena memang mereka hidup di sekitar candi ini dan menjadi bagian hidup dari masyarakat kawasan Candi Borobudur," katanya.

Sejumlah wisatawan mancanegara yang tiba di kompleks Candi Borobudur sore itu tampak menyaksikan karya lukis seniman setempat tersebut.

Pada kesempatan itu ia menyampaikan terima kasih kepada pengelola TWCB karena telah memberikan ruang untuk seniman setempat menggelar berbagai karya mereka.

"Memang ini baru pertama kali, sebagai ekshibisi di tempat ini, tentu pameran ini akan berlanjut setelah melihat respons positif dari pengunjung Borobudur," katanya.

Pameran itu, katanya, mendorong seniman untuk terus berkarya dan menggali inspirasi atas Candi Borobudur dengan kawasannya.

Yelke, seorang wisman asal Belanda menyatakan apresiasi atas berbagai lukisan karya seniman kawasan Candi Borobudur.

"Mereka menunjukkan kekayaan ide dan menuangkannya menjadi lukisan yang beragam makna dan menarik," kata Yelke yang belum lama ini berwisata di Ubud, Bali itu.

Pameran lukisan itu, katanya, semakin menambah kenangan diri dan keluarganya atas kunjungan wisata ke Indonesia terutama ke Candi Borobudur.
Read more >>

Lima Kerangka Prasejarah Ditemukan

kerangka manusia purba
KARAWANG, KOMPAS.com — Tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, yang bekerja dalam proyek Pemugaran Candi Blandongan sejak pertengahan April lalu, menemukan lima kerangka manusia. Kerangka diduga berasal dari masa akhir prasejarah.

Candi Blandongan merupakan salah satu candi di kompleks Percandian Batujaya, Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Lokasi penemuan kerangka merupakan areal persawahan di sebelah tenggara halaman candi.

Kelima kerangka yang terkubur di kedalaman 1 meter posisinya berjejer dengan kepala arah 60 derajat ke timur kaut. Salah satu kerangka terlihat utuh dari ujung batok kepala hingga ujung tulang kaki, panjang 170 sentimeter. Di dekat kerangka terdapat barang gerabah, baik dalam kondisi utuh maupun pecahan, serta benda dari logam. Tak jauh dari lokasi kerangka juga ditemukan dua batu menhir berukuran 2,1 meter dan 2,2 meter.

Arkeolog senior Hasan Djafar mengatakan, kerangka itu adalah manusia dari masa akhir prasejarah (sekitar abad ke-2 atau ke-3 Masehi), sebelum masa percandian di lokasi itu yang merujuk tentang peradaban zaman Kerajaan Tarumanegara.

”Kerangka ini merupakan manusia dari masa akhir prasejarah. Hal ini terlihat dari bekal kubur yang disertakan pada mayat, yaitu gerabah seperti tempayan atau periuk dan alat-alat dari logam atau besi yang merupakan persenjataan milik orang yang dikubur,” kata Hasan. Menurut ida, itu adalah kerangka nenek moyang jauh sebelum masa Hindu dan Buddha berkembang, sudah ada sebelum Candi Blandongan dibangun.
Pengangkatan peninggalan prasejarah ini rencananya dilakukan tanggal 5 Mei 2010. Identifikasi diperlukan untuk mengetahui secara tepat umur kerangka, jenis kelamin, dan rasnya, apakah dari ras Mongoloid seperti pernah ditemukan sebelumnya di sekitar candi atau Australomelanesoid.

Arkeolog yang bertugas di lapangan, Juliadi, mengatakan, sebelum kerangka diangkat, tim akan melakukan perekaman data, seperti penggambaran, pemotretan, dan pengukuran lapisan tanah. Proses analisis anatomi dan rekonstruksi rencananya dilakukan di lokasi.

Setelah diangkat, kerangka akan disimpan sementara di bengkel atau tempat kerja di Batujaya. ”Selanjutnya, kerangka bisa menjadi obyek penelitian. Tidak tertutup kemungkinan ada pengembangan Situs Batujaya. Kerangka bisa dipajang di museum agar masyarakat bisa mengapresiasi warisan budaya,” kata Juliadi.

Kegiatan penggalian di sekitar Candi Blandongan terkait dengan pemugaran candi tahap ke-11 setelah dimulai tahun 1999. Pemugaran pernah vakum pada 2000. Penggalian dilakukan karena ada kecurigaan terdapat kerangka di tiga titik lokasi. Informasi itu didapat dari masyarakat sekitar yang mengolah areal persawahan di sekitar candi. Penggalian akan diteruskan hingga September 2010.

Read more >>

Wisata Sejarah di Kepulauan Seribu

pulau seribu
Kepulauan Seribu tidak hanya memiliki keindahan bawah air, sehingga menjadi salah satu tempat wisata bahari terfavorit versi majalah National Geoghraphic 2009, tetapi juga memiliki potensi wisata sejarah yang tidak kurang menariknya bisa dikemas dengan baik.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu perlu membuat museum sejarah di Kepulauan Seribu.
-- Edy Juanedi

"Potensi wisata sejarah itu akan menjadi lebih menarik bila Direktorat Perlindungan Bawah Air bersedia menyerahkan benda cagar budaya hasil pengangkatan dari situs bawah air. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu perlu membuat museum sejarah di Kepulauan Seribu," kata Edy Juanedi, Camat Kepulauan Seribu Utara, pada acara Sosialisasi Peningkatan Peran Masyarakat dalam Penanganan Peninggalan Bawah Air, Kamus (29/4/2010) di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Potensi wisata sejarah di Kepulauan Seribu meliputi makam Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al Aidid di Pulau Panggang (wafat 15 Mei 1895), Kantor eks Asisten Resident Duizen Eilanden di Pulau Panggang (dibangun tahun 1880-an), makam legenda Darah Putih di Pulau Panggang, makam Syarif Maulana Syarifudin (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Kelapa, dan makam Sultan Mahmud Zakaria (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Panjang.
Edy Junaedi menjelaskan, lokasi untuk museum sejarah sebenarnya sudah ada, yaitu di kantor eks Asisten Resident Duizen Eilanden di Pulau Panggang, yang saat ini digunakan sebagai Kantor Lurah Pulau Panggang.

Menurut rencana, tahun 2011 Kantor Lurah Pulau Panggang akan dibangun di lokasi yang baru, sehingga gedung lama dapat direvitalisasi menjadi museum sejarah dan budaya untuk menyimpan benda cagar budaya, dan diorama singkat sejarah Kepulauan Seribu. Sedangkan situs BCB di perairan Kepulauan Seribu harus tetap dijaga kelestariannya sebagai sebuah situs dan terus menerus dipublikasikan, sehingga menjadi daya tarik bagi penyelam sebagaimana yang terdapat di Raja Ampat.

"Dengan pengembangan pariwisata sejarah dan budaya, saya yakin pada saatnya nanti Kepulauan Seribu akan mampu menjadi daerah tujuan wisata favorit sebagaimana halnya Bali. Masyarakat akan ikut merasakan dampak positif dari berkembangnya pariwisata berbasis komunitas di daerahnya, yaitu meningkatnya kesejahteraan masyarakat," katanya.

Read more >>

Situs Pemukiman Kuno Ambon Ditemukan

AMBON, KOMPAS.com - Balai Arkeologi Ambon menemukan situs pemukiman kuno di pesisir pantai Pulau Seram bagian barat atau persisnya di Desa Hatusua, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.

Salah satu peneliti di Balai Arkeologi Ambon, Wuri Handoko, di kantornya, Rabu (5/5/2010), mengatakan tim dari Balai Arkeologi Ambon memastikan tanah lapang yang sekarang kondisinya ditumbuhi rerumputan itu sebagai pemukiman kuno berdasarkan pada barang-barang yang ditemukan di sana.

Barang itu seperti banyaknya pecahan gerabah, pecahan keramik, dolmen atau batu meja, bekas pagar batu, dan rangka manusia. Semua ditemukan tersebar di lahan seluas lebih dari satu hektar.

Sayangnya saat ini, lokasi situs pemukiman kuno itu terancam keberadaannya karena aktivitas manusia.

Bebatuan gamping dari Goa Pintu Tujuh banyak diambil penambang batu guna dipakai pembangunan gedung perkantoran Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat. Selain itu, lahan kosong tempat situs pemukiman kuno berada, beberapa diantaranya di manfaatkan untuk ladang warga.

Balai Arkeologi Ambon merencanakan bertemu dengan masyarakat setempat dan pemerintah guna mensosialisasikan temuan ini. Harapannya, setelah disosialisasikan ada perlindungan terhadap situs itu mengingat pentingnya situs sebagai lapangan studi arkeologi, sejarah budaya, bahkan bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata, jelasnya.

Read more >>

Peteater: Karakter Bangsa Dapat Dibangun Melalui Seni

Semarang (ANTARA News) - Pendiri Teater Koma, Nano Riantiarno, mengatakan pembentukan karakter bangsa dapat dilakukan melalui seni karena seni tak pernah lepas dari proses perjalanan sebuah bangsa.

"Permasalahan seni selalu ada dalam setiap bangsa dan menjadi akar budaya bangsa itu," katanya usai dialog bertema "Membangun Pendidikan Karakter Bangsa Melalui Apresiasi Seni" di IKIP PGRI Semarang, Kamis.

Artinya, kata dia, pembentukan karakter bangsa harus dilakukan dengan menggali akar kebudayaan dan kesenian yang dimiliki suatu bangsa itu sendiri, bukan dibangun melalui kebudayaan bangsa lain.

"Bangsa Indonesia saat ini tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan karena tidak memiliki kebijakan yang bermuara pada budaya bangsanya, misalnya terlihat ketika menyikapi persoalan kelulusan sekolah," katanya.

Ia mengatakan penyikapan terhadap persoalan kelulusan sekolah selama ini justru terkesan memberatkan siswa secara psikologis, padahal banyak pihak yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut.

"Bangsa Indonesia harus meniru keberanian China yang telah menerapkan kebijakan bermuara budaya bangsanya sendiri sehingga penyikapan terhadap kelulusan sekolah dilakukan secara bijaksana," katanya.

Kalau ada siswa yang gagal lulus sekolah, kata dia, pihak yang disalahkan bukan siswanya, melainkan gurunya yang dianggap gagal dalam menyelenggarakan pembelajaran dan mendidik siswanya.

"Kebijakan-kebijakan yang bermuara pada akar budaya bangsa itu yang harus dijadikan patokan, baik dalam bidang seni maupun pendidikan. Jangan sampai kebijakan yang diterapkan justru mengacu budaya bangsa lain," kata Nano.

Sementara itu, pakar pendidikan IKIP PGRI Semarang, Dr. Sudharto, mengatakan pembentukan karakter bangsa harus bermuara pada nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki suatu bangsa, misalnya melalui seni.

"Sebab, tanpa bermuara pada nilai-nilai kearifan lokal yang dimiliki suatu bangsa justru mengantarkan suatu bangsa menuju titik kehancuran," kata mantan Ketua PGRI Jawa Tengah tersebut.

Kearifan lokal, kata Sudharto, sudah dibuktikan para leluhur dengan menata setiap budaya asing yang masuk dan disesuaikan dengan budaya-budaya lokal yang dimiliki bangsa Indonesia.

"Kehebatan itulah yang saat ini sudah mulai menghilang sehingga harus kembali dibangkitkan agar kebudayaan-kebudayaan asing yang masuk dapat disaring dan disesuaikan dengan budaya lokal," kata Sudharto.

Read more >>

Pengangkatan Kerangka Manusia Prasejarah Dilanjutkan Jumat

kerangka prasejarah

Karawang (ANTARA News) - Pengangkatan satu dari enam kerangka manusia prasejarah oleh peneliti dari ITB Dr Ir Johan Arif, MT, dan arkeolog lapangan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang, Juliadi, akan dilanjutkan Jumat (7/5).



Proses pengangkatan kerangka yang dimulai pada Kamis sekitar pukul 11.30 WIB itu dilanjutkan pada Jumat (7/5), karena hingga Kamis sore pengangkatan kerangka itu belum selesai. Kerangka yang diangkat itu berada di tengah-tengah enam kerangka lainnya.

"Secara umum, pengangkatan kerangka itu tidak sulit dan tidak ada kendala. Tetapi, pengangkatan kerangkanya akan dilanjutkan Jumat (7/5), karena kami belum bisa mengangkat kerangka itu sampai Kamis sore," kata Johan Arif, di Karawang, Kamis.

Rencananya, enam kerangka manusia prasejarah yang ditemukan di halaman Candi Blandongan bagian Tenggara, Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat itu, akan diangkat seluruhnya. Dengan demikian, butuh beberapa hari dalam proses pengangkatannya.

"Kami memilih mengangkat satu kerangka yang panjang dan berada di tengah, karena proses pengangkatannya yang mudah dibandingkan dengan pengangkatan kerangka yang lain," kata Johan.

Pantauan ANTARA, proses pengangkatan kerangka itu diawali dengan mengambil pecahan-pecahan batok kepala dari kerangka tersebut, termasuk pada bagian kedua mata yang sudah dipenuhi tanah dan gigi yang masih terlihat utuh.

Satu per satu pecahan batok kepala tersebut dibersihkan dari tanah. Dilanjutkan dengan mengangkat bagian leher kerangka, tangan, serta bagian kerangka yang lain.

Pecahan kerangka yang diangkat kemudian dibungkus plastik dengan menandakan bagian kerangka tersebut, agar nanti bisa mudah dalam melakukan penyusunan kerangka tersebut. Sedangkan sebelum diangkat, kerangka itu dibersihkan dan digambar terlebih dahulu agar setelah diangkat nanti mudah disusun saat melakukan identifikasi.

Dari pengangkatan sementara satu kerangka itu, ditemukan dua logam panjang yang diduga merupakan senjata milik kerangka tersebut.

"Nanti, kami akan membersihkan dengan mencuci pecahan kerangka dan logam yang ada dari kerangka itu, untuk selanjutnya direkonstruksi dan dianalisa," kata Johan.

Rencananya, akan dilakukan identifikasi "carbon dating" agar bisa diketahui usia kerangka tersebut, jenis kelamin, dan rasnya, apakah dari ras Mongoloid seperti pernah ditemukan sebelumnya atau dari ras yang lain.

Identifikasi juga akan dilakukan dengan melakukan tes Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) dan dari isi gerabah yang berada dekat kerangka tersebut.

Enam kerangka manusia prasejarah itu sendiri ditemukan tidak disengaja saat tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang melakukan strukturisasi Candi Blandongan sejak pertengahan April 2010.

Lokasi penemuan kerangka berada di sekitar 25 meter dari bibir tangga candi bagian tenggara. Keenam kerangka manusia sepanjang 170 centimeter itu berposisi membujur arah timur laut-barat daya. Terkubur di kedalaman sekitar 1 meter dengan posisi berjajar.

Jarak antara kerangka yang satu dengan lainnya sekitar 90 centimeter. Dari ujung kaki sampai kepala, dua dari enam kerangka manusia itu utuh. Bahkan, senjata jenis logam yang berada di sekitar kerangka itu juga masih utuh.

Di dekat kerangka ditemukan sejumlah gerabah yang diduga menjadi bekal kubur manusia prasejarah tersebut. Kondisi gerabah itu sudah pecah saat tim penggalian dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang menemukan kerangka manusia prasejarah tersebut.


Read more >>

Pusat Bahasa dan Microsoft Alihkan 250 Ribu Kosakata


TEMPO Interaktif, Semarang - Pusat Bahasa menggandeng Microsoft untuk mengalihkan lebih dari 250.000 kosakata atau istilah bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Upaya ini memperkaya bahasa Indonesia dan memberi kemudahan generasi muda dalam memanfaatkan komputer dan mengakses teknologi informasi.

"Pengalihan kosakata atau istilah asing harus dilakukan secepatnya agar masyarakat tidak terjebak menggunakan bahasa asing," kata mantan Kepala Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional Dendy Sugono dalam Seminar Nasional Bahasa "Pemertahanan Bahasa Nusantara dalam Perspektif Lokal, Nasional dan Global" oleh Program Pascasarjana Universitas Diponegoro di Semarang, Kamis.

Read more >>

Nasib Warisan Budaya di Tangan Siapa?


Penentuan nasib warisan budaya bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah, melainkan setiap warga negara (idealnya) juga berhak menentukan nasib sebuah warisan budaya. Bagaimana Anda, sebagai warga negara, bisa berpartisipasi dalam hal pelestarian warisan budaya?

Beberapa orang di kalangan pergerakan mempunyai bahasa yang terdengar rada menyeramkan, namun mau tak mau kita mengakui bahwa memang tak ada ungkapan lain yang lebih singkat, yang memuat seluruh nuansa yang ada dalam kata ini: KITA REBUT!

Rasa-rasanya, ada aroma kekerasan untuk menggunakan kata ini dalam konteks: tanah, lahan, tempat tinggal, dsb. Namun kita mengangkat derajat kata ini lebih baik ketika kita menggunakannya dalam konteks: pengelolaan situs, artefak, candi, dsb.

Pertanyaannya, bagaimana kita akan melakukannya?

Read more >>
Jumat, 07 Mei 2010

Pesan Dinding

Tinggalkan pesan dinding Anda di sini

Read more >>

Terms of Service

Menggunakan aplikasi Madya untuk berinteraksi dengan blog ini berarti sepenuhnya memenuhi ketentuan yang tercantum dalam Terms of Service dari merek Blogger.com maupun Facebook.com. Dari pihak pengembang blog MADYA, pengembang aplikasi MADYA maupun siapa saja yang hendak berkontribusi ke dalam blog ini ke dalam tim, berkomitmen untuk memenuhi etika dunia maya ('cyber ethic'). Tentang cyber ethic ini, bisa dibaca di Wikipedia atau Norton Article Library maupun The Socrates Institute
Read more >>

Siapa M A D Y A ?

MADYA adalah singkatan dari Masyarakat Advokasi Warisan Budaya. Bukan pilihan nama yang sembarangan, namun telah dipikir masak-masak.

Masyarakat adalah kita semua yang cinta dan peduli terhadap warisan budaya. MADYA bukan milik seseorang atau sebuah kelompok, melainkan sebisa mungkin menjangkau siapa saja yang tertarik untuk berbagi kecintaan dan kepedulian serta menyebarkan kesadaran terhadap pentingnya warisan budaya kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia.

Advokasi adalah kegiatan kita, baik dalam bentuk penyebaran kesadaran maupun dalam bentuk pembelaan terhadap warisan budaya yang terancam. Kata ini membawa beban tanggung jawab yang berat terhadap nama gerakan ini, namun bukan berarti tak mungkin. Jika setiap orang mau mengusung beban sedikit, bukankah pekerjaan menjadi ringan? Untunglah kebudayaan kita mewariskan kata kunci: gotong royong, yang pada saat ini dan seterusnya nampaknya merupakan pilihan terbaik untuk membangun dan memelihara lingkungan dan warisan budaya di sekitar kita.

Warisan Budaya adalah hal-hal menyangkut warisan masa lalu yang kita pedulikan bersama.

Potret Indonesia di masa kini ibarat seorang remaja: tanpa masa lalu, tanpa orangtua, tanpa bimbingan yang baik. Yang sedang terjadi dewasa ini dalam tubuh masyarakat dan pemerintahan kita pada garis besarnya merupakan eksperimen yang hampir tak terarah, dan kadang-kadang menjurus kepada tindakan brutal, serta perampasan hak-hak kaum lemah. Deskripsi ini mungkin sedikit dramatis, tetapi ada banyak hal yang bisa membuktikannya: eksperimen dengan demokrasi selama puluhan tahun terakhir, eksperimen dengan kurikulum pendidikan yang tak pernah selesai, eksperimen dengan jaring pengaman sosial, dst. Selama eksperimen-eksperimen itu berjalan, kita melihat langsung atau membaca di koran-koran tentang adanya penggusuran, kerusuhan, penindasan terhadap kelompok minoritas, perusakan lingkungan, dst.

Indonesia bagai remaja. Seseolah upaya ribuan tahun untuk membangun kebudayaan yang nyaman bagi manusia dan ramah terhadap lingkungan, kini sia-sia hanya demi kepentingan politik atau ekonomi. Manusia terlupakan, lingkungan terinjak-injak. Kebudayaan sedang meruntuh.

Sementara bangsa kita sedang sibuk mencari-cari pegangan baru, atau nilai-nilai baru seperti misalnya demokrasi, hak asasi manusia, penegakan hukum, ideologi, dsb; secara berangsur-angsur orang melupakan hal-hal lama seperti tradisi, nilai-nilai lama, kebudayaan lama. Namun sementara nilai-nilai baru itu belum kuat mengakar di dalam masyarakat, bahkan belum kuat juga melekat di dada para advokatnya, nilai-nilai lama telah merapuh dan mulai menghilang. Benar-benar Indonesia bagai seorang remaja tanpa ingatan masa lalu, tanpa asuhan orangtua atau guru, yang nyaris tak beradab.

Ada thesis: politik sebagai panglima! Thesis lain mengatakan: ekonomi sebagai panglima!

Pada masa lalu, politik sebagai panglima bisa dibenarkan karena kita dalam perjuangan merebut eksistensi bangsa sendiri, melepas nama Hindia atau Belanda. Pada masa kini, semua orang berteriak bahwa kemajuan ekonomi akan membawa kebaikan bagi Indonesia --seseolah masalah kita hanya ekonomi semata-mata. Sebagian besar orang lupa, bahwa masalahnya bukan hanya ekonomi: ibarat remaja kaya, tanpa asuhan, tanpa bimbingan, hanya termotivasi memperkaya diri, kejahatan apa lagi yang akan terjadi?

Masalah Indonesia adalah masalah nilai. Sementara pendidikan kita masih bingung mencari arah, dan agama-agama dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk kepentingan tertentu dengan menutup-nutupi nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, kita masih punya satu bahasa yang sama: kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia memang masih mencari bentuk, namun melihat bagaimana bahasa Indonesia berkembang sejauh ini sejak tahun 1928, kita masih bisa optimis.

Mohon dukungan moralnya untuk kerja-kerja ke depan. Siapa saja dipersilakan untuk bergabung dengan MADYA, mengatasnamakan diri sebagai MADYA, untuk membela warisan budaya. Kita bisa merintis dan mengembangkan kepedulian ini bersama-sama. Baik yang ada di departemen pemerintah, lembaga-lembaga akademis, institusi-institusi penelitian, maupun masyarakat awam seperti yang ada di dalam MADYA selama ini.

Tak setiap kita mampu menyumbangkan segenap waktu untuk peduli kepada kebudayaan kita, tetapi setiap orang bisa peduli dan bisa menyebarkan kepedulian ini.

MADYA adalah Anda, MADYA adalah saya. MADYA adalah kita semua.

Salam Budaya!

Read more >>

Advokasi dan Kampanye


Dalam hal advokasi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

1. Penyadaran publik

lewat pelatihan-pelatihan, seminar-seminar, publikasi, dan lain-lain.

Sebagai contoh untuk kerja-kerja yang telah dilakukan menggunakan cara seperti ini adalah advokasi gender, advokasi anggaran, advokasi bencana, advokasi jurnalistik, dan lain-lain. Advokasi ini diusung secara bersama-sama oleh pihak-pihak yang berkepentingan, atau istilahnya "pemangku kepentingan", dan terutama pemerintah dan unsur-unsur masyarakat yang bersangkutan. Tujuannya adalah kesadaran publik yang lebih luas dalam hal respons masyarakat terhadap isu-isu tersebut serta tercermin dalam kebijakan publik (undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan daerah termasuk institusi publik yang berwenang mengoordinasi hal ini)

Read more >>

Masyarakat Advokasi Warisan Budaya

Baru disadari bahwa ternyata banyak masyarakat awam, seperti halnya kami, yang turut menaruh kepedulian terhadap nasib warisan budaya kita yang sedang terancam kepunahan, keruntuhan, maupun secara semena-mena (baca: untuk kepentingan ekonomi) diklaim sebagai milik budaya bangsa lain.

Satu hal yang kami sadari adalah bahwa ada banyak orang di negeri ini yang bekerja tanpa banyak bicara demi memajukan dan melestarikan kebudayaan: para seniman, orang-orang direktorat jenderal kebudayaan, masyarakat-masyarakat adat.

Satu hal yang kurang di antara kita selama ini adalah: berjejaring, dan bergabung menjadi satu suara yang masif agar kesadaran budaya ini berkembang semakin luas menjadi kesadaran publik; agar kesadaran publik ini tercermin dalam peraturan-peraturan daerah, sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang; agar peraturan dan perundang-undangan itu bisa berjalan dengan semestinya melalui partisipasi publik yang bisa berjalan setiap saat --bukan hanya lima tahun sekali.

Satu hal lain yang belum tersentuh adalah bagaimana agar kebudayaan, atau warisan budaya, bermanfaat secara umum bukan hanya bagi dari sisi nilai-nilai, tetapi juga memberikan ekonomi bagai para pelakunya atau para penduduk yang tinggal di sekitarnya?

Mari, kita melakukannya bersama-sama. Di mana pun Anda berada, Indonesia membutuhkan Anda. Silakan menulis komentar di bawah ini untuk memberikan pendapat bagaimana kita akan melakukannya bersama-sama.

Read more >>
Kamis, 06 Mei 2010

Editorial

Read more >>

Dana dan Kegiatan

(Halaman ini sedang dalam penyusunan)

Read more >>
Rabu, 05 Mei 2010

Privacy

(Halaman ini sedang disusun)
Read more >>

Help

(Halaman ini sedang disusun)
Read more >>
Selasa, 04 Mei 2010

TOPIK

(Halaman inin baru dalam perbaikan)

Anda bisa menggunakan halaman ini, atau sub-menu dari tab "TOPIK" di atas, untuk memilih kategori berita yang Anda kehendaki.

Kategori yang ada sejauh ini:



  • FIGUR
    http://advokasiwarisanbudaya.blogspot.com/search/label/cagar%20alam
    http://advokasiwarisanbudaya.blogspot.com/search/label/flora
    http://advokasiwarisanbudaya.blogspot.com/search/label/fauna


    TOPIK disusun menggunakan label, ketika sebuah artikel blog hendak diterbitkan. Sejauh ini, ada sembilan kategori topik/label. Kategori lain bisa ditambahkan.

    Setiap kategori bagaikan sebuah laci: sebuah artikel blog hanya bisa masuk ke dalam satu kategori. Jika Anda hendak berkontribusi dengan artikel blog, pastikan Anda memilih 1 (satu) dari seluruh kategori topik/label yang tersedia.

    EDITORIAL

    Tulisan dari kontributor berkenaan dengan sikap Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) atas isu-isu terbaru yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia, yang mencakup namun tidak terbatas pada:

    • upaya-upaya dan/atau ancaman terhadap pengembangan bangunan cagar budaya, artefak, situs, komunitas tradisi, ritual tradisi, nilai tradisi, hak-hak ulayat, kesenian tradisi;
    • upaya-upaya dan/atau ancaman terhadap lingkungan, kemanusiaan, masyarakat desa, masyarakat petani, pendidikan, kesetaraan, HAM, demokrasi, keadilan sosial, toleransi;
    • kebijakan pemerintah yang berdampak pada pelestarian cagar budaya pada khususnya dan kesejahteraan rakyat pada umumnya
    • peristiwa terkini yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya dan/atau pembangunan masyarakat tradisi pada khususnya, serta wacana-wacana kebudayaan yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan Indonesia serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui cara-cara kebudayaan.


    Kontributor: gunakan label editorial untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    WACANA PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN

    Tulisan dari kontributor maupun kliping dari koran yang terkait dengan wacana pengembangan kebudayaan Indonesia pada umumnya, yang mencakup namun tidak terbatas pada:

    • kemanusiaan (pendidikan, kesetaraan, HAM, demokrasi, keadilan sosial, toleransi)
    • lingkungan (CSR, hutan, air bersih, sanitasi, perencanaan pemukiman)
    • pembangunan (desa, kota, pertanian, kelembagaan)
    • teknologi (inovasi baru, ide-ide teknologi, listrik, tips praktis untuk 'tech-savvy')

    Serta berkaitan dengan wacana pengelolaan warisan budaya pada khususnya, yang mencakup namun tidak terbatas pada:

    • bangunan cagar budaya, artefak, situs
    • komunitas tradisi, ritual tradisi, nilai tradisi, hak-hak ulayat, kesenian tradisi
    • festival, kompetisi, pertunjukan dan pameran


    Kontributor: gunakan label wacana untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    TITIR!!!!!!!!!!

    Titir adalah sandi menggunakan kentongan yang dipukul sekeras-kerasnya dengan nada yang ritmis dan terus-menerus untuk memberikan tanda bahaya kepada siapa saja yang mendengarnya.

    Rubrik Titir berisi tulisan dari kontributor maupun kliping dari koran yang terkait dengan ancaman terhadap kebudayaan Indonesia pada umumnya, yang mencakup namun tidak terbatas pada:

    • kemanusiaan (pendidikan, kesetaraan, HAM, demokrasi, keadilan sosial, toleransi)
    • lingkungan (CSR, hutan, air bersih, sanitasi, perencanaan pemukiman)
    • pembangunan (desa, kota, pertanian, kelembagaan)

    Serta terhadap warisan budaya pada khususnya, yang mencakup namun tidak terbatas pada:

    • bangunan cagar budaya, artefak, situs
    • komunitas tradisi, ritual tradisi, nilai tradisi, hak-hak ulayat, kesenian tradisi

    Ada ide untuk menambahkan kategori?

    Kontributor: gunakan label Titir untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    ARTEFAK, SITUS, DAN WARISAN BUDAYA LAINNYA

    Kontributor: gunakan label bcb untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    MASYARAKAT TRADISI

    Kontributor: gunakan label komunitas untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    PRASEJARAH DAN SEJARAH

    Kontributor: gunakan label sejarah untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    SENI DAN PERTUNJUKAN

    Kontributor: gunakan label seni untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    PEJUANG KEBUDAYAAN

    Tulisan dari kontributor maupun kliping dari koran tentang tokoh-tokoh yang berkontribusi pada kesenian, sejarah, dan kebudayaan pada umumnya. Tokoh adalah siapa saja yang bisa menjadi inspirasi bagi pengelolaan warisan budaya maupun pemajuan kebudayaan Indonesia.

    Kontributor: gunakan label Figur untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    BERITA JEJARING

    Kontributor: gunakan label jejaring untuk artikel blog yang masuk dalam kategori ini.

    Ada yang bisa menambahkan?

  • Read more >>

    Unduh





    Beberapa dokumen resmi seperti perundang-undangan, konvensi PBB, Peraturan Pemerintah, dll yang relevan dengan kegiatan advokasi warisan budaya bisa diunduh dari sini

    Post this to Scribd

    Detail lebih lanjut mengenai perundang-undangan itu, dll, bisa dibaca di keterangan tiap-tiap dokumen.

    Read more >>
    Senin, 03 Mei 2010

    Facebook

    Selain bermitra di lapangan, MADYA mempergunakan media Facebook untuk memperluas jejaring.
    Mari bergabung dengan Masyarakat Advokasi Warisan Budaya di Facebook untuk berjejaring dengan kami dan bertemu dengan rekan-rekan lain.
    Read more >>
    Related Posts with Thumbnails

    Share It

    ^ Kembali ke atas