Kamis, 23 Maret 2017

Pertanggungjawaban Atas Hilangnya Koleksi Museum Sang Nila Utama Pekanbaru


Masyarakat Indonesia yang memiliki perhatian pada pelestarian Warisan Budaya kembali dikejutkan oleh berita hilangnya koleksi Museum Sang Nila Utama Provinsi Riau hari Selasa, 21 Maret 2017. Kejadian ini sangat memprihatinkan dan Modus serupa telah berulangkali terjadi pada museum-museum lainnya di Indonesia seperti Kasus Hilangnya 75 Koleksi emas masterpiece dari Museum Sonobudoyo, Yogyakarta (2010) belum terungkap, begitu juga kasus Hilangnya 4 koleksi emas Masterpiece dari Museum Nasional, Jakarta (2013). Beberapa museum lain di Indonesia juga mengalami kasus serupa. Kejadian terakhir yaitu Hilangnya Koleksi dari Museum Daerah Sang Nila Utama Provinsi Riau Pertengahan Maret 2017.
Sebagaimana diberitakan, Kasus Pencurian Koleksi Museum Daerah Sang Nila Utama Provinsi Riau merupakan kejadian yang kedua dalam satu bulan ini. Kasus pertama terjadi pada akhir Februari 2017, yaitu hilangnya 3 buah Keris Melayu, 1 buah Pedang Melayu Sondang, 1 buah Piring Saladon Emas, 1 buah Kendi VOC, dan 1 buah Kendi Janggut yang disimpan di gudang. Sedangkan kurang dari 2 (dua) minggu berikutnya atau pertengahan Maret 2017, kembali terjadi pencurian terhadap sebuah benda pusaka berupa keris dari Kabupaten Indragiri Hulu yang terbuat dari gading dan kayu serta dilapisi perak. Keris tersebut hilang dari lemari yang berada di ruang pamer. Celakanya kerugian ditaksir HANYA Rp 54 juta. Taksiran harga ini tentu sangat melecehkan dan sama sekali penaksir tidak memiliki sense of history and culture value. Sangat disayangkan apabila pernyataan tersebut keluar dari staf ataupun pegawai yang mengurusi urusan sejarah maupun kebudayaan.
Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) melihat bahwa kejadian dua kali berturut-turut tidak sampai 1 (satu) bulan, bukan lagi bentuk kelalaian petugas, tetapi ada unsur kesengajaan dari oknum petugas museum dan/atau aparat Penegak Hukum lainnya. Oleh karena itu, Pejabat terkait harus dikenakan sanksi administrasi maupun hukum. Sudah bukan rahasia lagi dalam setiap permasalahan pencurian koleksi museum di Indonesia, seringkali yang dijadikan kambing hitam adalah matinya CCTV dan jumlah petugas keamanan yang minim. Alasan ini sebenarnya mengada-ada. Sebab Pemerintah Pusat (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) telah memberikan instruksi kepada Museum-museum daerah untuk memperkuat sistem keamanan museum pada tahun 2010 pasca hilangnya Koleksi emas Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Sehingga sekedar beralasan bahwa CCTV mati dan minimnya petugas keamanan seharusnya tidak lagi menjadi alasan.  
MADYA menilai bahwa kejadian tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah, khususnya Provinsi RIAU tidak pernah belajar dari kasus-kasus sebelumnya, cenderung mengabaikan keamanan koleksi museum, dan masih memposisikan museum gudang 'barang rongsokan'. Hal ini kontraproduktif dengan semangat Pemerintah Provinsi Riau yang hendak menjadikan Provinsi tersebut menjadi Pusat Kebudayaan Melayu di Dunia pada tahun 2020. Untuk itu, MADYA meminta:
Pertama, Kasus ini harus diselesaikan secara serius. Gubernur Riau harus bertanggung jawab atas kehilangan koleksi tersebut dan mengungkap dugaan kelalaian dan pembiaran yang dilakukan oleh Kepala Museum Sang Nila Utama maupun jajarannya serta menjatuhkan Sanksi Administrasi dengan dugaan pelanggaran berat sebagaimana diatur dalam aturan perundang-undangan yang berlaku.
Kedua, Pemerintah RI c.q. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI memberi perhatian serius terhadap kasus Pencurian Koleksi Museum Sang Nila Utama, sebab koleksi museum yang hilang merupakan representasi khasanah kebudayaan nasional sebagai identitas dan jati diri bangsa, dimana pengelolaannya di bawah Pemerintah Provinsi Riau, yang merupakan Wakil Pemerintah di Daerah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.
Ketiga, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama-sama Gubernur Riau diminta menyelidiki kasus Pidana pencurian dengan melibatkan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). Selain itu, Mendikbud RI dan Gubernur Riau perlu membentuk Tim Independen untuk melakukan Audit Manajemen (Pengelolaan) Museum Sang Nila Utama. Hal serupa pernah dilakukan pada kasus Pencurian 75 koleksi emas Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.
Keempat, Meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI bersama-sama Gubernur Riau menghitung ulang kerugian atas hilangnya koleksi Museum Sang Nila Utama dengan melibatkan tim profesional penghitungan koleksi-koleksi bersejarah (warisan budaya), mengungkapkan secara jujur jenis dan nilai penting dari koleksi-koleksi tersebut.  Kerugian 54 juta rupiah sebagaimana diungkapkan, seakan menunjukkan bahwa koleksi tersebut tidak memiliki nilai apapun, selain nilai ekonomi semata.
Kelima, Meminta Kapolda Riau mengungkap Kasus ini dan menemukan siapa pelaku pencurian. Perlu diketahui bahwa kasus hilangnya koleksi museum tidak dilihat semata-mata kasus pencurian biasa, tetapi juga menyangkut identitas dan jati diri bangsa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
Keenam, Mendukung langkah Pegiat Sejarah dan Kebudayaan Riau maupun rekan-rekan media massa untuk mengawal dan memantau kasus ini. Kasus ini harus menjadi pembelajaran bagi Pemerintah maupun Pemerintah Daerah agar tidak terulang kembali.

Salam Budaya...!


Jakarta, 23 Maret 2017
Hormat kami,


Jhohannes Marbun​

Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya​ (MADYA)
Read more >>

Mengaitkan Konsep Kebudayaan dan Pariwisata

Barangkali itu gagasan yang muncul, dulu, ketika sub-kementerian kebudayaan di bawah Depdikbud (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) dipindahkan ke Depparsenibud (Departemen Pariwisata, Kesenian, dan Kebudayaan). Kala itu ada banyak protes, karena khawatir akan nasib kebudayaan: mau dibawa ke mana?

Sampai sekarang masih banyak orang yang percaya bahwa kebudayaan seharusnya ada di bawah kementerian tersendiri, atau setidak-tidaknya bersama-sama di bawah satu kementerian dengan departemen kebudayaan.

Kalau kita baca referensi di Wikipedia, di mana-mana ada kecenderungan untuk memisahkan Kementerian Kebudayaan sebagai sebuah departemen tersendiri dalam pemerintahan (misalnya India, China, Mesir, Prancis, dll), atau setidak-tidaknya mengaitkannya dengan seni, pendidikan, 'heritage', 'science', 'technology', bahkan dengan Islam (Iran) dan gereja (Norwegia). Hanya ada sedikit negara yang mengaitkan antara kebudayaan dengan pariwisata dalam kementerian yang sama, yakni Korea Selatan, Ethiopia, dan baru-baru ini negara bagian Ontario di Kanada.

Rupanya ada kesadaran universal (kecuali di Indonesia, Korea Selatan, Ethiopia dan Ontario) bahwa kebudayaan merupakan sebuah aspek yang penting dalam sebuah negara, sehingga perlu dikoordinasi di bawah kementerian tersendiri --atau setidak-tidaknya disatukan di bawah kementerian yang juga menangani urusan pendidikan karakter.

Contoh yang lebih tegas dari Kerajaan Inggris Raya, di mana kebudayaan dijadikan satu dalam kementerian (secretary) yang berurusan dengan pembangunan karakter bangsa, di bawah Department of Culture, Media and Sport.

Kembali ke Indonesia.

Meskipun kata 'kebudayaan' digeser lebih ke depan dalam penulisan nama Depbudpar (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata), bukan berarti bahwa kebudayaan kini mendapat posisi yang lebih baik dalam administrasi kenegaraan RI.

Untuk menyebut bukti kelemahan sistem administrasi negara RI di bidang perlindungan budaya, rasanya cukup mudah: penghancuran terhadap berbagai bangunan kuno dan bersejarah mulai dari Trowulan hingga Pangkal Pinang; upaya penggusuran terhadap komunitas tradisi, mulai dari Sikep hingga Cina Benteng; pelelangan BMKT Cirebon, dsb. Semua ini memperlihatkan keabaian yang serius dalam diri para pemegang keputusan, yakni dari menteri terkait hingga para kepala daerah.

Rupanya konsep 'kebudayaan' hanya dipahami secara mentah-mentah dalam arti pengaya bagi kepariwisataan, dan konsep 'pariwisata' hanya dipahami secara mentah-mentah dalam arti sebagai pengaya bagi kocek kementerian ...

Sementara itu, masyarakat kita tampaknya mengalami banyak kemunduran karena hilangnya pendidikan kebudayaan dalam berbagai aspek, termasuk dalam dunia pendidikan itu sendiri.
Read more >>

Kontribusi untuk MADYA

Sebagaimana yang telah berlangsung selama ini, seluruh kegiatan MADYA merupakan sebuah upaya voluntarisme demi kebudayaan Indonesia yang lebih baik, khususnya dengan membangun kesadaran untuk bersama-sama mempertahankan dan mengelola warisan budaya.

Sebagai sebuah gerakan kesadaran, hal ini hanya dimungkinkan dengan terus-menerus mengajak semua orang yang peduli untuk bersama-sama menyebarkan kepedulian ini kepada setiap orang di sekitar kita.

Kesadaran sebagai sebuah gerakan mempunyai ciri khas yang unik: tak seorang pun bisa melakukannya sendirian. Kesadaran harus dilakukan bersama-sama. Hal ini membawa sebuah implikasi yang menarik: tak seorang pun bisa mengklaim diri sendiri sebagai Gerakan, sekaligus setiap orang berhak menyebut dirinya sendiri sebagai bagian dari Gerakan ini.

Dengan demikian, berbicara tentang MADYA: tak ada seorang pun yang mewakili seluruh ide-ide, kerja-kerja, kepedulian, tentang MADYA; sekaligus bahwa setiap orang berhak untuk menyebut dirinya sendiri MADYA sembari memberikan kontribusi bagi kepedulian terhadap kebudayaan pada umumnya dan warisan budaya pada khususnya.

Lalu, kontribusi apa yang bisa SAYA berikan?

Setiap orang bisa memberikan kontribusinya masing-masing. Kontribusi minimal, sekaligus kontribusi yang utama, adalah dukungan moral terhadap gerakan mencintai kebudayaan. Anda, maupun saya, serta setiap orang bisa memberikan kontribusi semacam ini dengan sepenuh-penuhnya.

Tak perlu pengorbanan yang terlalu besar, jika setiap orang mau memberikan sekedar apa yang bisa kita lakukan untuk membangun Indonesia yang lebih baik melalui Jalan Kebudayaan.

Mempertimbangkan hal ini, MADYA mengundang beberapa sahabat MADYA di FB untuk menulis di blog MADYA. Sebagaimana kita sadari bersama, tulisan merupakan sarana edifikasi yang paling mudah untuk menjangkau banyak orang.

Harapannya, MADYA --yang telah menjadi wadah berekspresi bagi sementara orang selama ini-- juga bisa menjadi wadah berekspresi bagi lebih banyak orang.

Wadah berekspresi yang bagaimana?

Itu terserah kepada Anda, yang menentukan masa depan MADYA khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Jika Anda gemar menulis, dan mempunyai visi yang sama dengan kami: membangun kebudayaan Indonesia yang lebih baik; kami mempersilakan Anda untuk menulis bagi para pembaca page MADYA (saat ini 1707 orang dan sedikit-demi-sedikit secara alami setiap hari terus bertambah) dan/atau akun MADYA (saat ini 1775 orang dan sedikit-demi-sedikit secara alami setiap hari terus bertambah).

Sudah saatnya Anda menyuarakan kepedulian Anda pada kebudayaan, kepada publik yang lebih luas.

Salam budaya!
Read more >>
Pertengahan tahun lalu saya kembali mengunjungi Museum Geologi Bandung. Terakhir kali saya berkunjung adalah ketika saya SMP. Hampir 15 tahun yang lalu.

Ternyata kondisi museum belum berubah sejak pertama kali saya kunjungi 15 tahun yang lalu. Dengan tata ruang yang masih sama. Semua koleksi tampak ditaruh begitu saja tanpa penjelasan berarti, tanpa penataan yang menarik. Bahkan di bagian batuan alam penjelasannya bahkan sama sekali belum diperbarui dengan data mutakhir. Sungguh sangat disayangkan karena koleksi museum tersebut cukup bagus. Terutama koleksi arkeologi berupa kerangka binatang purba dan replika tengkorak manusia purba.

Saya sebagai seseorang berlatar pendidikan arsitektur dan juga perancang selama 3 tahun merasa gatal ingin mengubah dan mempercantik tampilan koleksi museum agar bisa menarik lebih banyak pengunjung. Saya bahkan sempat mengintip buku tamu dan di sana terdapat tak sedikit nama asing yang tertulis. Artinya banyak pengunjung mancanegara datang ke museum ini, bahkan ada di antaranya adalah peneliti.

Bertolak dari pengalaman mengunjungi berbagai jenis museum di Eropa, mempercantik tampilan dan tata letak koleksi serta penambahan sedikit penjelasan sejarah tentu tidak akan menyakiti museum. Sebaliknya, saya yakin hal itu akan membantu museum berkembang dan menjaring lebih banyak pengunjung.

Di Museum Geologi Bandung, koleksi paling istimewa adalah kerangka T-Rex diikuti kerangka hewan langka lain dan replika tengkorak manusia purba. Untuk menjaring pengunjung usia muda (anak-anak), kerangka T-Rex adalah primadona. T-Rex bisa ditaruh di satu ruangan tersendiri, di tengah-tengah ruangan sebagai penarik perhatian. Di sekeliling ruangan akan sangat baik bila disusunkan semacam lukisan besar atau penjelasan tentang T-Rex dan dunia pra-sejarah dalam versi yang lebih baik daripada yang terlihat di foto.
 
Di sisi lain, koleksi batuan alam juga menarik, terutama yang berupa kristal. Jika pengelola museum pandai sedikit, ia bisa mengkaryakan seniman (atau pengrajin, siapa pun) untuk membuat perhiasan (aksesoris) dari batuan-batuan tersebut (dengan rancangan khas dan unik tentunya) dan menjualnya sebagai cinderamata. Jelas pangsa pasarnya tentu adalah kaum perempuan. Hasil penjualan bisa dimanfaatkan untuk pengelolaan museum dan penambahan serta perawatan koleksi.

Di bagian pintu masuk tempat terdapat dua tangga menuju lantai 1, akan lebih jika dibuatkan  semacam pusat informasi dan mungkin toko cinderamata untuk menjual benda-benda yang berkaitan dengan koleksi museum. Jika di museum filateli bisa dibeli perangko, maka di Museum Geologi mungkin pengunjung bisa membeli miniatur T-Rex atau buku tentang kehidupan pra-sejarah di Indonesia.

Ini hanyalah sedikit ide untuk mengangkat (membuat lebih menarik) kekayaan yang sudah ada (dimiliki). Semoga ide ini suatu hari bisa diwujudkan demi pendidikan dan ilmu pengetahuan. Untuk mewujudkan ide ini diperlukan kerjasama antara arsitek, arkeolog dan perancang interior. Hal ini diperlukan karena di Indonesia belum dikenal ilmu yang bernama museografi sehingga profesi museolog (pengurus dan pengatur museum) juga belum dikenal.


-Saya posting ulang dari blog pribadi saya-


Read more >>
Related Posts with Thumbnails
Ada kesalahan di dalam gadget ini
^ Kembali ke atas