Sabtu, 08 Mei 2010

Panduan label dan halaman

Rubrikasi dalam blog ini menggunakan fasilitas 'label' yang tersedia. Artikel akan muncul jika dan hanya jika memiliki label yang sesuai (tentu saja menelusuri halaman satu per satu juga bisa memberikan hasil yang sesuai).

Oleh karena itu, sekurang-kurangnya perlu ada satu label yang wajib terdapat dalam tiap-tiap artikel.
  1. Esai
  2. Warisan Budaya
  3. Humaniora
  4. Seni & Budaya
  5. Alam & Lingkungan
Label-label yang lain juga bisa ditambahkan (dipisahkan dengan koma).

















































Esai Warisan Budaya Humaniora Seni & Budaya Alam & Lingkungan
Editorial Masyarakat Tradisi Evolusi & Manusia Purba Pameran & Festival Cagar Alam
Wacana & Inovasi Situs & Artefak Prasejarah Buku & Film Flora
Titir BMKT Sejarah Jejaring & Komunitas Fauna
Wisata & Jalan-jalan Busana Tradisi Nilai & Filosofi Figur


Senjata Tradisi


Cerita Tradisi


Aksara & Prasasti


Apabila Anda kesulitan memberikan label, kosongkan saja, kawan lain akan mengurusi.
Read more >>

Orang Karawang Gaul Sejak Dahulu Kala


KARAWANG, KOMPAS.com--Menurut Robi, 65, si pemburu harta "bekal kubur" dari Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, , dirinya pernah menemukan beraneka barang dan perhiasan yang tak jauh dari kerangka manusia yang ditemukannya. Di antaranya kalung berbagai bentuk dan bahan, penutup bibir, penutup kemaluan wanita, penutup mata, tembikar, serta perhiasan lain yang menurutnya bagus-bagus corak dan modelnya.

Merujuk pada penuturan Robi, ada dua hal yang bisa diungkap. Masyarakat setempat pada zaman protisejarah (awal sejarah)  sekira 2-4 M, sudah cukup modis (baca: gaul), dan juga telah bergaul dengan bangsa lain melalui bukti temuan tembikar yang bercorak Vietnam dan India.

Belum lagi jika "hipotesa" Robi benar bahwa dirinya menemukan tulang aneka warna (kuning, merah, putih, coklat dan hitam) yang menurutnya menandakan golongan (ras), maka boleh jadi Karawang adalah sebuah wilayah yang telah ramai dikunjungi oleh beraneka bangsa.

Hal ini dikuatkan dengan adanya informasi bahwa di daerah Kecamatan Tempuran, Kecamatan Cilebar, banyak ditemukan bekal kubur yang bercirikan adanya tembikar buni yang meluas di pantai Karawang, seperti manik-manik berbahan emas, batu cornelian dan kaca. "Dari manik-manik kaca kita tahu itu produksi luar Indonesia, tepatnya Indo Pasifik. Dari situ mulailah kita menggali di Kecamatan Tempuran, tepatnya di desa Cikuntul. Di sana kita temukan yang tahun lalu itu ada lima individu yang membawa bekal kubur berupa tembikar dengan ciri buni dan tembikar dari vietnam daerah Oc Eo, tembikar India daerah Arikamidu. Dari situ kita dapat melihat, masyarakat pada masa itu sudah memiliki hubungan dengan dunia luar, atau disebut sebagai zaman protosejarah (awal sejarah), " ujar Aemlia dari Puslitbang Arkenas kepada Kompas.com, Kamis (6/5).

Lebih lanjut Amelia menerangkan, protosejarah adalah sebuah zaman di mana masyarakat kala itu belum bisa baca dan tulis namun telah dikenal oleh bangsa lain.







Powered by ScribeFire.

Read more >>

Ada DNA Neanderthal di Tubuh Kita

(Sumber asli: www.antaranews.com)


Washington (ANTARA News) - Manusia Neanderthal dan manusia modern ternyata pernah kawin, kemungkinan besar terjadi ketika manusia pertama kali bermigrasi keluar dari Afrika, demikian sebuah studi genetika yang dirilis Jumat pagi WIB.

Orang Eropa, Asia dan Australasia semuanya memiliki DNA Neantherthal, tetapi orang Afrika tidak, kata para peneliti yang menyampaikan hasil penelitiannya dalam jurnal Science.

Hasil penelitian ini mungkin membantu menjawab perdebatan lama mengenai apakah manusia Neanderthal dan manusia modern hanya hidup berdampingan di Eropa dan Timur Tengah.

"Mereka yang tinggal di luar Afrika membawa sedikit DNA Neanderthal ke tubuh kita," kata Svante Paabo dari Institut Max Planck di Munich, Jerman, yang mengepalai penelitian itu.

"Proporsi material genetik asal Neanderthal kira-kira 1 sampai 4 persen. Memang kecil, tetapi itu proporsi yang benar-benar ada di nenek mooyang orang-orang non Afrika," kata Dr. David Reich dari Fakultas Kedokteran Universitas Harvard di Boston, yang menjadi anggota penelitian itu, kepada wartawan dalam briefing telepon.

Paabo mengaku tidak bisa mengidentifikasi kesamaan prilaku manusia Neanderthal dengan manusia modern sekarang. "Sejauh yang bisa kami katakan bukti-bukti ini hanya bagian acak dari DNA," katanya.

Para peneliti menggunakan metode modern yang disebut peruntutan seluruh genom untuk menguji DNA dari tulang-tulang Neanderthal yang ditemukan di Kroasia, Rusia, Jerman dan Spanyol, termasuk tulang-tulang patah dari seorang manusia gua di Kroasia yang disebut para peneliti sebagai bukti kanibalisme.

Para ilmuwan mengembangkan metode baru untuk mengumpulkan, membedakan dan merunutkan DNA manusia Neanderthal.

"Pada tulang-tulang itu yang usianya 30.000 sampai 40.000 tahun ada bukti teramat kecil DNA," kata Paabo. Dia menyatakan 97 persen atau lebih DNA yang diekstraksi berasal dari bakteri dan jamur.

Mereka kemudian membandingkannya dengan gen manusia Neanderthal dengan DNA lima orang Eropa, Asia, Papua Nugini dan Afrika.

"Analisis mereka membuktikan kekuatan perbandingan genom dan membawa pandangan baru mengenai pemahaman kita tentang evolusi manusia," kata Dr. Eric Green, Direktur Institut Riset Nasional Genom Manusia pada Institut Kesehatan Nasional.

Hasil penelitian mengimbuhkan bukti satu gambaran baru mengenai manusia modern yang hidup berdampingan atau berinteraksi pada tingkat yang paling intim dengan jenis manusia serupa yang kini sudah punah.

"Itu jelas sebuah petunjuk mengenai apa yang secara sosial terjadi manakala manusia Neanderthal bertemu dengan manusia modern," kata Paabo.

"Ada perkawinan pada tingkat tertentu. Saya memilih mewariskan pertanyaan ini kepada mereka yang ingin menjawabnya apakah kita ini spesies terpisah atau tidak. Secara genetis mereka (Neanderhtal) tidak jauh berbeda dari kita," tambahnya.

Perunutan DNA menjejak kembali masa sekitar 80.000 tahun lalu, manakala manusia modern pindah ke Timur Tengah dari Afrika, akan membuatnya sampai di kawasan selatan yang banyak dihuni manusia Neanderthal.

Para peneliti mengidentifikasi lima gen unik pada manusia Neanderthal, termasuk tiga gen kulit. "Bukti ini menujukkan bahwa sesuatu dalam fisiologi atau morfologi kulit manusia telah berubah," kata Paabo.

Bulan Maret lalu Paabo dan koleganya melaporkan bahwa mereka menemukan spesies manusia yang tidak dikenal yang kemungkinan hidup 30.000 tahun lalu, di samping manusia modern dan manusia Neanderthal di Siberia.

Selama bertahun-tahun para peneliti berspekulasi mengenai beberapa perbedaan dalam spesies manusia yang tinggal berdampingan di masa awal jutaaan tahun lalu. Banyak diantaranya hidup di kawasan tropis di mana sisa tulang tidak terpelihara.

Paabo mengatakan manusia Afrika modern mungkin membawa sejumlah DNA tak dikenal, andai mereka tidak membawa DNA nenek moyang manusia Neanderthal.
Read more >>

LELANG HARTA KARUN. Sistem Lelang di Indonesia Tidak Fair

harta karun nasional

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Direktur PT Paradigma Putra Sejahtera, Adi Agung Tirtamarta mengatakan, sistem lelang di Indonesia tidak fair. Adi mengacu pada Keputusan Presiden Nomor 49 Tahun 1985 tentang Izin Survei dan Pengangkatan barang-barang muatan kapal tenggelam. Keppres tersebut mengatur, dari hasil lelang, investor-pemerintah mendapat masing-masing 50 persen.

"Seharusnya, sistem bagi hasil dilakukan setelah hasil lelang dikurangi biaya pengangkutan," ujar Adi kepada para wartawan di Pamulang, Jawa Barat, Selasa (4/5/2010). Paradigma Putra Sejahtera merupakan mitra lokal perusahaan penyelaman milik Luc Heymans, Cosmix Underwater Research Ltd. Mereka bekerja sama mengangkat barang-barang yang berada di kapal karam di perairan utara Cirebon, Jawa Barat.

Selain itu, dirinya juga menganggap syarat penyerahan uang jaminan penawaran lelang sebesar 20 persen dari nilai lelang berlebihan. Syarat yang ditetapkan Menteri Keuangan ini dinilai memberatkan calon peserta lelang. "Di tingkat internasional, tidak ada syarat seperti itu. Balai Lelang Christy, misalnya, tidak pernah meminta uang jaminan lelang," katanya.

Sebenarnya, penetapan syarat ini juga berlaku untuk pelelangan barang sitaan, gedung, dan lainnya. Namun, Adi berharap para pelelang benda seni memeroleh pengecualian.

Hal yang sama disampaikan Sekjen Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal Tenggelam Sudirman Saad kepada Kompas.com. "Kami sudah meminta agar syarat uang jaminan dikurangi. Bahkan, jika memungkinkan, uang jaminan diganti surat garansi. Namun, syarat ini sepertinya ditolak," ujar Saad.

Lelang harta karun untuk pertama kalinya yang rencananya digelar Rabu (5/5/2010) besok terancam gagal. Sampai berita ini dilaporkan, belum ada satu pun calon peminat yang menyetorkan uang jaminan.

Read more >>

Istri Fadel Tinjau Gudang Harta Karun

BMKT
JAKARTA, KOMPAS.com — Istri Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Hana Hasanah, Selasa (4/5/2010) sore, meninjau gudang penyimpanan harta karun yang ditemukan di perairan utara Cirebon, Jawa Barat, di area Pacuan Kuda Pamulang.

Begitu tiba di lokasi, Hana yang didampingi pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan langsung disambut oleh Presiden Direktur PT Paradigma Putra Sejahtera Adi Agung Tirtamarta dan pemilik Cosmix Underwater Research Ltd Luc Heymans.

Hana pun langsung dipersilakan masuk ke dalam gudang. Adi menunjukkan koleksi barang berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT) yang ditemukan dari sebuah kapal karam.

Benda tersebut antara lain sarung golok emas dan rock crystal yang diyakini milik anggota keluarga Nabi Muhammad. Hana tampak antusias dan serius menyimak penjelasan Adi dan Luc.

Hana juga menyempatkan diri berfoto dengan sebuah guci yang ditunjukkan oleh Luc. Di gudang tersebut, Hana meninjau selama lebih dari 30 menit. Setelah itu, Hana pun langsung pergi meninggalkan gudang tersebut.


Read more >>

Tiada Henti Menebar Edukasi di Merapi

Magelang (ANTARA News) - Lelaki tua berpeci dan berbaju batik dengan rambut yang sedikit beruban itu duduk di deretan bangku di luar gedung yang oleh masyarakat petani setempat dinamai "Gubug Selo Merapi".

Gedung itu sebelumnya menjadi bagian dari kompleks sekolah kecil bernama Sekolah Dasar Kanisus Grogol, terletak di Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer sebelah barat puncak Gunung Merapi.

Sekitar 13 tahun lalu pihak yayasan yang menaungi sekolah itu mengeluarkan kebijakan menutup operasional sejumlah sekolahnya yang salah satunya SD Kanisus Grogol lantaran jumlah siswa yang semakin sedikit seiring dengan perkembangan kependudukan.

"Tahun 1997 sekolah ini ditutup oleh yayasan, tidak tahu persis alasan penutupan, tetapi secara umum karena jumlah anak yang semakin sedikit, terakhir kalau tidak salah ada 65 anak kelas I hingga VI," kata Supangat (70), mantan Kepala SD Kanisius Grogol (1982-1992) di utara aliran Kali Senowo yang airnya berhulu di kaki Merapi.

Meski akhir cerita sekolah itu ditutup, rupanya semangat edukasi yang telah ditebarkan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah itu tak padam. Masyarakat setempat makin memiliki kesadaran mantap terhadap pentingnya pendidikan.

Mereka terkesan terus bergerak menebarkan nilai-nilai edukasi dalam skala yang makin luas, tidak sekadar pendidikan formal untuk anak-anak Merapi.

Pada Minggu (2/5), Supangat bersama ratusan warga petani holtikultura berasal dari berbagai dusun di lereng Merapi merayakan Hari Pendidikan Nasional 2010.

Perayaan itu sekaligus dikemas untuk pesta rohani pelindung GSPi "Santo Petrus Kanisius", tokoh gereja yang secara khusus bergerak di bidang pendidikan. Perayaan dikemas dalam prosesi anak-anak dan misa kudus dipimpin Romo Singgih Guritno di bangunan terbuka, GSPi.

Bekas ruang kelas masih tersisa, komunitas petani setempat melalui bantuan dari berbagai pihak baik di dalam maupun luar negeri secara tekun membangun gedung yang terkesan akrab dengan ekologi Merapi yang kemudian mereka namai GSPi. Gedung itu kini menjadi pusat kegiatan budaya, spiritualitas, religi, dan sosial kemasyarakatan.

Seakan lelaki itu mengenang para murid dan suasana pendidikan ketika sekolah yang berada di tepi jalan menuju Pos Pengamatan Merapi di Desa Babadan, sekitar empat kilometer sebelah barat puncak Merapi itu, masih beroperasi.

"Bahkan tiga anak saya dulu juga sekolah di sini, kepala sekolah yang terakhir Pak Warso (Suwarso, red.), saya Tahun 1992 dipindah menjadi Kepala SD Kanisus Tangkil, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun hingga pensiun Desember 2001," katanya.

Sekolah yang dibuka pada Tahun 1927 itu pernah menjadi tumpuan masyarakat petani setempat antara lain berasal dari Dusun Kajangkoso, Grogol, Bendo, Mangunsuko, Muntuk, Dadapan, dan Semen untuk anak-anak mereka mengenyam pendidikan formal.

Setelah ditutup, katanya, orang tua setempat menyekolahkan anak-anak di SD Negeri Mangunsuko sekitar 200 meter dari lokasi GSPi sedangkan lainnya menyekolahkan di SD Kanisius Tumpang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sekitar 10 kilometer dari GSPi.

Meski sekolah itu tutup, komunitas petani setempat tidak menutup buku terhadap proses pembelajaran. Mereka di bawah pendampingan intensif budayawan dan rohaniwan Katolik setempat, Romo Vincentius Kirjito, terus mengembangkan misi pendidikan GSPi.

Sejak beberapa tahun terakhir, GSPi mengembangkan program "live in" terutama untuk anak-anak SLTP hingga perguruan tinggi yang ingin belajar tentang kehidupan desa, pertanian, ekologi, dan komunitas petani Merapi.

Jumlah mereka yang pernah menjalani "live in" di kawasan itu kemungkinan sudah mencapai puluhan ribu anak. Mereka berasal dari berbagai sekolah di kota-kota besar di Pulau Jawa.

Bahkan secara berkala sejumlah sekolah seperti di Yogyakarta, Jakarta, Semarang, dan Magelang mengirim murid-muridnya untuk "live in" minimal selama tiga hari tiga malam di tempat itu. Mereka tinggal di rumah-rumah warga setempat dan menjalani berbagai kegiatan harian para petani baik di rumah maupun di lahan pertanian, sambil menjalani proses edukasi ekologi yang dikembangkan komunitas GSPi.

"Saat ini saja ada enam mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang sedang survei untuk `live in` kawan-kawan mereka," kata tokoh GSPi, Fransiskus Xaverius Sutar.

Minimal sebulan sekali, katanya, ada rombongan "live in" baik siswa maupun mahasiswa berasal dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Beberapa bulan lalu beberapa mahasiswa berasal dari sejumlah negara juga "live in" di tempat itu.

Program "live in" bukan saja proses penebaran nilai-nilai edukasi kepada anak-anak kota tetapi juga menjadi ajang pembelajaran dan peningkatan sumber daya manusia petani Merapi.

"Kalau sering didatangi tamu tentu kami juga harus menata diri, belajar menjadi tuan rumah yang baik, belajar lebih giat tentang sopan santun, semakin baik dalam merawat rumah dan pertanian agar bisa menjadi bahan belajar mereka secara pantas, dan kalau kami rawat lebih tekun, hasil pertanian menjadi lebih baik. Kami sendiri juga ikut belajar," katanya.

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2010, komunitas petani setempat mencanangkan gerakan yang mereka namai "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" sebagai wujud kesadaran masyarakat Merapi terhadap pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka.

"Masyarakat kami semakin menyadari bahwa pendidikan semakin mahal," kata Sutar yang lulus SD Kanisius Grogol pada Tahun 1980 itu dan kemudian melanjutkan pendidikan formal hingga SMA.

Pencanangan gerakan itu ditandai dengan perarakan puluhan anak Merapi mengenakan pakaian jatilan kontemporer diiringi gamelan dari halaman rumah petani di ujung dusun itu menuju Gedung GSPi yang berjarak sekitar 500 meter.

Anak-anak itu membawa puluhan bumbung berbagai ukuran dicat warna merah sebagai tempat celengan. Bumbung diserahkan mereka kepada Romo Singgih sebagai simbol penyerahan gagasan orisinil anak-anak tentang gerakan menabung itu kepada orang tua agar menyisihkan uang receh mereka secara tekun untuk biaya pendidikan.

Prosesi pencanangan gerakan "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" itu ditata oleh seniman petani setempat Susanto.

Setiap keluarga petani memasang bumbung celengan itu di rumah masing-masing. Setiap saat mereka menyimpan uang receh di bumbung dan seminggu sekali menyetorkan kepada pengelola tabungan itu di GSPi untuk selanjutnya dicatat dan disetor ke salah satu bank yang telah mereka sepakati.

"Paling cepat setahun sekali tabungan dibongkar untuk diserahkan kepada warga sebagai biaya sekolah, orang tua yang tidak punya anak juga menabung tetapi ketentuannya lima tahun sekali tabungan mereka dibongkar," kata Sutar yang juga koordinator gerakan "Tabungan Pendidikan Keluarga Petani" itu.

Petani setempat, katanya, menyebut gerakan mereka menabung itu sebagai "ngopeni receh" atau memanfaatkan uang kecil.

"Uang sisa belanja di pasar, uang receh sisa beli pupuk dan bibit tanaman, atau sisa naik angkutan dimasukkan bumbung, ditabung karena kami sadar bahwa pendidikan butuh biaya," katanya.

Romo Singgih mengapresiasi gagasan edukatif komunitas petani setempat berupa tabungan pendidikan itu.

Ia mengemukakan, bukan jumlah tabungan yang relatif banyak yang mereka kejar, tetapi ketekunan mereka mengumpulkan uang receh itu sebagai proses pendidikan bukan saja bagi para orang tua dan anak-anak setempat.

"Tapi bisa menjadi pembelajaran untuk masyarakat dalam skala yang lebih luas, bahwa pendidikan adalah proses yang terus menerus berjalan dan dijalani secara tekun. Ada kesetiaan tentang perhatian terhadap anak, sedikit demi sedikit. Ini proses dan keutamaan yang harus dirawat, kebiasaan ini dihayati sebagai wujud cinta kasih," katanya.

Mungkin saja cita-cita pendidikan oleh komunitas setempat atas anak-anak mereka tidak terlalu muluk.

Setidaknya proses pendidikan yang mereka tebar secara terus menerus di kawasan itu terutama untuk membangun kemandirian, memantapkan identitas kultural, dan jati diri sebagai petani Merapi.

Sekolah mereka memang telah tutup, tetapi pembelajaran mereka tiada berkesudahan.

Read more >>

BENTENG SUROSOWAN, SISA KEBESARAN NEGERI BANTEN

PARA wanita cantik itu keluar dari kaputren, lalu dengan gemulai menuruni anak tangga menuju pemandian Rara Denok. Tidak lama kemudian, mereka sudah asyik berendam di kolam berair bening. Tawa renyah terdengar dari mulut mereka, ditingkahi gemercik air yang mengalir dari pancuran. Para putri keraton itu biasanya betah berlama-lama saat membersihkan diri pada pagi dan sore hari.

Seperti itulah kebiasaan mandi para putri kalangan Kesultanan Banten pada masa lampau. Pemandian tersebut berada di dalam Kompleks Keraton Surosowan yang kini berada di kawasan Banten Lama, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kab. Serang, atau sekitar 10 kilometer di utara Kota Serang. Lokasi keraton terletak di sebelah selatan Masjid Agung Banten.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang sekitar 30 meter dan lebar 14 meter. Sementara kedalamannya mencapai 4,5 meter. Di tengah pemandian terdapat kolam yang ukurannya lebih kecil, tempat istirahat bernama bale kambang. Terlindungi oleh benteng yang tinggi dan pintu yang kokoh. Dengan demikian, para wanita akan merasa aman dan nyaman di tempat tersebut.

Namun, kini keindahan pemandian kelas VIP itu hanya menyisakan air kotor hijau. Tembok kolam bagian luarnya hanya tersisa sekitar 0,5 meter. Meski demikian, batu bata merahnya masih tampak kuat dengan kualitas bangunan yang bagus. "Rupanya kolam ini menyimpan banyak cerita tentang kecantikan putri keraton, ya," ujar Hazairin Sueb (45), seorang pengunjung asal Tasikmalaya.

Sebenarnya bukan hanya memyimpan cerita tentang para putri keraton, Rara Denok juga menjadi bagian penting dari sentuhan teknologi pengairan yang sangat maju pada zamannya. Air untuk memenuhi kebutuhan kompleks keraton dialirkan dari danau buatan bernama Tasik Ardi yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer di sebelah selatan keraton. Danau tersebut dibuat pada masa Sultan Maulana Yusuf (1570-1580 M)

Sebelum masuk ke kompleks keraton, air yang dialirkan melalui pipa dari tanah liat itu harus melalui tiga tahap penyaringan. Bangunan tempat penyaringan itu menyerupai gerbong kereta api yang disebut pangindelan. Penyaringan pertama disebut Pangindelan Abang, kemudian Pangindelan Putih, dan terakhir Pangindelan Mas. Pembangunan saluran air tersebut dibuat pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1683 M) dengan melibatkan arsitek Belanda bernama Hendrick Lucasz Cardeel.

Semua bangunan pangindelan hingga kini masih berdiri kokoh, tetapi tidak lagi berfungsi seperti dulu. Bagian dalam mengeluarkan bau tidak sedap karena dipakai sarang kelelawar. Sementara Tasik Ardi yang berluas 6,5 hektare dan dulu sering dijadikan tempat rekreasi keluarga keraton, kini menjadi salah satu tempat wisata favorit bagi warga Banten.

Dirusak dan dibakar

Ketika berniat mengunjungi Keraton Surosowan, jangan bayangkan satu keraton dengan bangunan utuh, seperti Keraton Cirebon atau Yogyakarta. Apalagi, membayangkan di dalamnya bertakhta seorang raja yang menjadi simbol budaya masyarakat setempat. Surosowan hanya puing-puing hampir rata dengan tanah yang berada dalam benteng. Luas keseluruhannya mencapai sekitar 4 hektare.

Menurut berbagai sumber bacaan, Istana Surosowan dibangun Panembahan Hasanuddin, sultan pertama Banten (1526-1570 M). Sebutan Surosowan sebagai nama keraton, berkembang menjadi nama wilayah kekuasaan. Bahkan, kemudian, nama resmi kerajaan Islam di Banten adalah Negeri Surosowan.

Pada mulanya kompleks keraton tidak semegah seperti tercermin dari reruntuhannya. Namun, pada masa Sultan Abdulfatah (Sultan Ageng Tirtayasa), dalam kaitan jalinan persahabatan internasional, sejumlah teknisi Eropa diundang. Selain dilibatkan dalam pembuatan kapal-kapal niaga, mereka juga dilibatkan dalam perbaikan kompleks Keraton Surosowan.

Istana megah itu kemudian dibuat lebih indah dan lebih tahan dari berbagai serangan. Di dalamnya dibangun pancuran dan kolam pemandian. Di sekelilingnya dibangun tembok terbuat dari bata merah yang cukup tebal. Pada sudut-sudut benteng dibangun menara penjaga (bastion). Jalan masuk ke istana, berbentuk busur, diberi dinding bata pada kedua tepinya untuk menghindari pengintaian dari luar.

Dalam sejarahnya, keraton ini mengalami beberapa kali kehancuran. Antara lain ketika terjadi peperangan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan anaknya sendiri, Sultan Haji, yang bekerja sama dengan penjajah Belanda. Meski kemudian diperbaiki lagi, perlawanan dari rakyat terhadap Sultan Haji terus berlangsung dan membuat keraton rusak lagi.

Akan tetapi, kerusakan yang paling parah terjadi pada masa Sultan Aliuddin II (1803-1808). Ketika Herman Willem Daendels meminta Sultan agar mengirimkan seribu pekerja rodi untuk membangun jalur jalan Anyer-Panarukan. Selain itu, juga meminta agar Patih Mangkubumi Wargadiraja diserahkan dan ibu kota kesultanan dipindahkan ke Anyer karena di sekitar Surosowan akan dibangun benteng Belanda.

Tentu saja permintaan tersebut ditolak mentah-mentah. Terjadilah peperangan hebat yang berakhir dengan penaklukan Surosowan dan penangkapan Sultan Aliudin II lalu dibuang ke Ambon. Sementara Patih Mangkubumi Wargadiraja dihukum pancung. Perlawanan rakyat Banten tidak berhenti. Pada 1809, Daendels menghancurkan dan membakar Sorosowan. Puncak kerusakan keraton tersebut terjadi pada tahun 1813.

Benteng utuh

Memang bangunan Keraton Surosowan tidak ada lagi yang utuh. Semuanya nyaris rata dengan tanah. Namun, dengan melihat reruntuhan itu, akan terbayang semegah apa bentuk fisik istana tersebut. Beruntung, para pelancong agak terhibur dengan melihat benteng keraton yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Meskipun benteng keraton masih kokoh, kelihatan sekali bangunan itu kesepian dan tidak terurus. Sampah bertebaran di mana-mana, di sana sini sudah ada kerusakan pada tembok benteng. Padahal, benteng ini satu-satunya peninggalan di kompleks keraton yang relatif masih utuh..

Bagi sebagian orang, beberapa bagian pada benteng itu sering dijadikan tempat untuk bersemedi. Biasanya, mereka menempati ruang-ruang kecil bekas tempat penjagaan. Mereka tidak peduli tempatnya pengap dan becek. Di beberapa ruang kecil itu masih terdapat bekas alas tidur dan sisa-sisa ritus.

Merekonstruksi bangunan keraton merupakan sesuatu yang sulit dilakukan dan membutuhkan biaya mahal. Biarlah reruntuhan itu menjadi saksi kehebatan rakyat Banten yang tidak mau tunduk kepada penjajah. Hal yang paling mungkin dilakukan adalah memelihara yang masih tersisa. Maka, semestinyalah keberadaan benteng itu mendapat perhatian yang memadai dari pemerintah setempat.
Read more >>

Mengenal Aksara Kawi (Jawa Kuno)

Sedikit demi sedikit cita-cita untuk mendokumentasikan aksara Nusantara, semakin mendekati kenyataan. Walaupun memakan waktu cukup lama aksara Nusantara yang berserakan entah dimana, satu-satu terkumpul juga dan sampai saat ini sudah 10 aksara nusantara yang berhasil dikumpulkan, ini berkat bantuan sahabat-sahabat baik di Kompasiana maupun di FB yang tergabung di Madya Indonesia (Masyarakat Advokasi Warisan Budaya).

Kemarin malam saya menerima kiriman contoh Aksara Kawi (Jawa Kuna) dari Sahabat Facebook yang bernama Cahyo Ramadhani dan pada saat itu juga saya mencoba membuat font Aksara Kawi yang saya beri nama Kawi.ttf yang bisa di-download DI SINI. Metode pembuatan berbeda dengan yang saya lakukan berbeda dengan metode yang terdahulu. Dulu, saya jiplak tiap hurup dengan Corel Draw, tapi sekarang berhubung bentuknya agak rumit, sehingga dengan metode jiplak akan memakan waktu cukup lama, saya potong-potong langsung Aksara Kawi tersebut dengan Adobe Photo Shop, kemudian tiap hurup tersebut di-mapping font-nya menggunakan font creator.

Seperti aksara Nusantara yang lainnya, aksara Kawi ini terdiri dari Hurup Utama yang disebut Aksara Induk, tanda diakritik, dan hurup pasangan, dengan mapping pada Keyboard seperti berikut.

AKSARA INDUK

aksara-kawi

TANDA DIAKRITIK

diakritik

AKSARA PASANGAN

pasangan

Kompasianer yang mengetahui tentang Aksara Kawi dimohon masukannya, ada beberapa yang membingungkan, di antaranya huruf yang berbunyi sa ada 3 bentuk.

(Disajikan di sini seizin sahabat Wawan Supriadi. Sumber asli ada di Kompasiana.com)

Read more >>
Related Posts with Thumbnails
^ Kembali ke atas