Tampilkan postingan dengan label warisan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label warisan budaya. Tampilkan semua postingan
Minggu, 10 Februari 2013
Hilangnya Koleksi Museum Sonobudoyo
19.45 | Diposting oleh
MADYA |
Edit Entri
Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyerahkan sepenuhnya pengusutan kasus pencurian koleksi emas di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta kepada polisi. Namun, hingga kini, belum ada titik terang sama sekali terkait kasus pencurian tersebut.
Para pemerhati benda cagar budaya mengeluhkan penanganan kasus yang sudah lima bulan, tetapi belum diketahui perkembangan kasusnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DIY Djoko Dwiyanto mengatakan, kasus pencurian 87 koleksi emas Museum Sonobudoyo yang terjadi pertengahan Agustus 2010, polisi belum menemukan satu pun benda koleksi yang hilang dicuri. ”Hingga saat ini polisi belum menemukan titik terang kasus tersebut,” kata Djoko, Senin (10/1) di Yogyakarta. Koordinator Masyarakat Advokasi Warisan Budaya, Jhohannes Marbun, menilai, kasus pencurian koleksi museum tersebut sengaja dilalaikan.
Penanganan pencurian koleksi fosil purbakala di Sangiran, misalnya, bisa diungkap oleh Kepolisian Daerah Jawa Tengah hanya dalam beberapa jam. Sementara pengusutan pencurian di Museum Radya Pustaka Surakarta pun bisa diungkap kurang dari setahun. Menurut Marbun, lamanya penanganan kasus pencurian di Museum Sonobudoyo menunjukkan ketidaksungguhan polisi. Dalam waktu dekat, Masyarakat Advokasi Warisan Budaya berencana akan beraudiensi dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X.
Lambannya Rekomendasi Penanganan Kasus Sonobudoyo
Dinas Kebudayaan DIY masih menunggu rekomendasi dari Inspektorat DIY yang telah memeriksa 21 pegawai Museum Sonobudoyo. Hasil investigasi dari Inspektorat DIY tersebut seharusnya sudah rampung pada akhir 2010 sebelum diserahkan kepada Dinas Kebudayaan DIY yang mengepalai Museum Sonobudoyo. Untuk perbaikan internal di Museum Sonobudoyo, lanjut Djoko, sudah dipasang alarm dan kamera permantau (CCTV) baru yang menjangkau seluruh areal museum.
Kondisi museum sebelumnya sama sekali tidak memiliki petugas keamanan, kini Museum Sonobudoyo telah memiliki satuan pengamanan. Pencurian koleksi emas di Museum Sonobudoyo dipastikan tidak menurunkan minat wisatawan berkunjung ke museum yang berlokasi di lingkungan Keraton Yogyakarta tersebut.
Masyarakat Advokasi Warisan Budaya (MADYA) telah menuntut pemerintah untuk segera memberikan sanksi administrasi kepada penanggung jawab Museum Sonobudoyo. Sanksi itu diperlukan sebagai suatu bentuk pertanggungjawaban kepada publik karena pembiayaan museum tersebut selama ini menggunakan dana masyarakat. Menurut Marbun, pada masa mendatang perlu digelar audit publik secara independen untuk mengetahui problem yang dihadapi Museum Sonobudoyo agar hal serupa tidak terjadi di museum lain.(Kompas, 11 Januari 2011).
Kamis, 03 Juni 2010
Efek Positif Event Bengkulu Riwayatmu Dulu
06.51 | Diposting oleh
Anonim |
Edit Entri
Masih ingat kiriman Pak Uncu Bengkulu tentang Mesjid Padang Betuah beberapa waktu yang lalu? Nah Baru-baru ini Disbudpar Propinsi Bengkulu Mengadakan Event Bengkulu Riwayatmu Dulu yang dihelat mulai tanggal 28-30 mei 2010 yang lalu... Alhamdulillah Puji Tuhan Objek BCB juga dapat kecipratan efeknya. Sepengetahuan dan sepanjang pemantauan Pak Uncu Bengkulu, Pihak terkait melakukan refresh di beberapa BCB yaitu pengecatan Benteng Fort Marlborough dan Restickering Plank Info BCB Mesjid Padang Betuah...
Read more >>
Sabtu, 15 Mei 2010
Mesjid Abad 18 Padang Betuah Bengkulu
02.32 | Diposting oleh
Anonim |
Edit Entri
Menurut warga sekitar, mesjid yang arsitektur atapnya berbentuk prisma ini telah ada sejak tahun 1800-an silam, tapi sangat sangat disayangkan, semenjak ditetapkannya mesjid ini menjadi cagar budaya, belum ada lagi perhatian pemerintah Bengkulu.
Sangat ironis, di saat Pemerintah Bengkulu meluncurkan tahun kunjungan wisata 2010, dan bertepatan akan diadakannya perhelatan besar MTQ Nasional 2010 ternyata mesjid peninggalan sejarah ini tidak pernah dilirik oleh pemerintah.
Mesjid berukuran 7 m x 7 m ini sudah sangat memprihatinkan sekali di beberapa sisi, padahal mesjid yang berusia ratusan tahun ini masih digunakan untuk beribadah.
Menurut beberapa orang warga, mereka pernah didatangi oleh seseorang yang mengaku dari Pemerintah Daerah Bengkulu tengah pertengahan Ramadhan kemarin, tapi janji yang tadinya mau merenovasi bangunan mesjid tak kunjung datang lagi.
Artkel asli dari: Pak Uncu Bengkulu
Senin, 10 Mei 2010
"Di balik Layar" Harta Karun The Cirebon Wreck
11.50 | Diposting oleh
customerservice02 |
Edit Entri
Jakarta (ANTARA News) - Pada pekan-pekan terakhir Indonesia dikejutkan dengan penemuan harta karun kapal karam Cirebon atau yang dikenal dengan 'The Cirebon Wreck'. Mediapun berbondong-bondong memberitakan peristiwa yang belum pernah ada dan menempatkannya di berita utama.
"Dua minggu ini seluruh masyarakat heboh dan banyak yang peduli tentang kebuadayaan Indonesia dan takut kalau kebudayaan itu dijual," kata Jero Wacik Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ketika memberikan sambutan pelelangan di gedung ballroom Mina Bahari III Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Rabu (5/5).
Untuk pertama kalinya, pemerintah menyelenggarakan lelang artefak yang bernilai jutaan dolar dengan sistem lot dan ternyata tidak ada pesertanya. Waktu yang tidak memadai untuk sosialisi dituding sebagai salah satu penyebabnya.
Harta karun tersebut merupakan peninggalan bersejarah tetapi bukan sejarah Indonesia melainkan China karena isinya adalah barang-barang porselen dengan corak dan peninggalan dinasti China.
"Indonesia seharusnya tidak perlu kecewa karena harta tersebut bukan termasuk budaya Indonesia tapi Budaya China," kata Jero Wacik.
Pelelangan hanyalah bagian akhir dari pengangkatan harta kapal karam itu. Sebelumnya, harta karun itu diangkat dengan taruhan nyawa dan masih dalam keadaan bercampur lumpur sebelum dibersihkan sedemikian rupa menjadi indah di atas rak pajangan.
Ekskavasi dan Snorkel
Ekskavasi Bawah Air adalah salah satu cara menemukan data arkeologi dengan keterampilan selam meliputi penggalian, pengangkatan dan penanganan temuan sampai pemindahan ke tempat penanganan.
Proses pengangkatan harta karun itu di bawah pengawasan ketat Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata diwakili Direktorat Peninggalan Bawah Air, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan TNI AL. Mereka semua di bawah naungan panitia nasional BMKT.
Pengawas Direktorat Peninggalan Bawah Air mengawasi teknik dan metode kerja pengangkatan, mendata benda temuan hasil pengangkatan.
Pengawas TNI AL mengamankan lokasi kerja dan memeriksa setiap orang yang menaiki dan meninggalkan kapal sedangkan pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan bertugas memeriksa kelengkapan izin tenaga kerja asing dan sarana kapal yang digunakan dan masing-masing dari pengawas membuat laporan dan berita acara pengangkatan.
"Petugas selalu stand by berada di atas kapal mengawasi para penyelam setiap hari, mereka bergantian sekitar dua minggu sekali sekalian membawa suplai makanan ke atas kapal," kata Gatot Ghautama, Kepala Subdit Perlindungan Bawah Air dan ikut melakukan pengawasan The Cirebon Wreck di atas kapal.
Kru pengangkatan ada 30 orang terdiri dari nahkoda, penyelam, petugas pembersih keramik dan koki.Pengangkatan bisa memakan waktu berbulan-bulan dan dilakukan hanya di siang hari agar terbantu cahaya matahari.
"Ada pembagian kerjanya, ada yang di atas kapal seperti koki dan di bawah para penyelam dan mereka melakukannya siang hari bukan malam hari," katanya.
Standar peralatan yaitu kapal bermotor yang memiliki tempat untuk meletakkan peralatan selam atau mesin peralatan lainnya dan crane (Katrol), alat untuk mengangkat barang-barang dari dasar laut.
Peralatan selam terdiri dari masker selam untuk melindungi mata dari pasir atau benda-benda kecil juga agar tidak iritasi sewaktu menyelam, snorkel (pipa pendek untuk bernafas penyelam), dan jaket pelampung sebagai alat menetralkan berat peselam ketika berada di dalam air.
Terdapat pula tabung udara (scuba tank), pengukur kedalaman (depth gauge), kaki katak (fins), pakaian penyelam (wet suit) yang berfungsi sebagai penahan panas tubuh agar tidak hilang secara berlebihan, sarung tangan, jam tangan (dive watch) dan kompas.
"Penyelam bisa berjam-jam di dalam air dengan pergantian tabung di bawah laut Scuba sudah disiapkan dengan digatung di sisi kapal jadi penyelam tinggal mengambilnya," katanya.
Peralatan lainnya antara lain side scansonar alat yang digunakan untuk menjajaki benda-benda di bawah air seperti kapal karam bahkan ranjau, Kamera dan Video bawah air dan Komputer untuk mengolah data.
"Salah seorang penyelam melakukan dokumentasi video sehingga kita tahu apa yang dilakukannya dibawah," katanya.
Pengangkatan menggunakan lifting balloon berfungsi untuk mengangkat temuan dasar laut ke permukaan.
"Kalau balon diikatkan ke empat sudut kotak setelah ikatan dibuka maka balon tersebut akan mengelurkan gas yang akan mengangkatnya ke atas permukaan, lalu beberapa kru diatas siap membawanya ke kapal," katanya.
Tidak tertinggal, Airlift alat untuk menampakan temuan yang tertutup pasir atau lumpur.
"Penyelam profesional memakai Airlift biar hartanya tampak tapi kalau yang ilegal pakai linggis,"katanya.
Penyelaman membutuhkan keterampilan dan berisiko juga harus sesuai aturan.
"Penyelaman sama saja dengan terjun payung kalau terjun payung salah ikatannya bisa nyungsep, nah penyelaman kalau salah menyelamnya bisa lumbuh bahkan mati," kata Surya Helmi, Direktur Peniggalan Arkeologi Bawah Air kepada ANTARA News, Kamis.
Sebelum dan sesudah penyelaman, para penyelam akan diperiksa kondisi kesehatannya.
Sedikit cerita seram dari Gatot dapat menggambarkan betapa rawannya pekerjaan mereka.
"Dulu pernah ada penyelam kita di Manokwari, Papua, ketika menyelam ia tidak sesuai aturan disamping kesehatan yang kurang sehat, ketika penyelaman hari pertama tidak apa-apa tapi setelah penyelaman hari kedua setelah atas kapal tiba-tiba semua badannya terasa tebal dan tidak bisa digerakkan keesokannya dipastikan lumpuh karena terdapat kerusakan di aliran darahnya."
Cara menyelam tidak boleh terjun langsung ke dasar laut tapi harus mengikuti arah arus laut dengan melayang-layang begitu juga ketika kembali ke permukaan karena tekanan arus laut yang kuat bisa menyebabkan kematian.
"Jelas arus laut di permukaan dan di bawah lebih kuat di bawah makanya harus hati-hati belum dengan temperatur suhu air laut yang ekstrem makanya seorang yang telah melakukan penyelaman tidak boleh menaiki pesawat selama 24 jam," katanya.
Penggalian dibawah air lebih mudah di banding di darat, tetapi jika benda arkeologi sudah menjadi satu dengan karang akan lebih sulit dari di darat. Masalah utamanya adalah waktu bekerja didalam air sangat terbatas dan tergantung kedalaman benda arkeologi itu sendiri.
Hubungan antara suhu dengan kedalaman sangat erat sekali, semakin dalam perairan laut maka semakin rendah suhunya. Perubahan suhu mencolok terjadi pada kedalaman 200 meter - 1000 meter.
Make Over Harta Karun
Pengambilan harta karun harus diambil secara hati-hati, jangan sampai pecah atau patah. Jika barang yang mudah pecah dilakukan penanganan khusus dengan alat yang dapat melindungi benda tersebut.
Jika artefak sudah diatas permukaan maka yang dilakukan adalah pencucian artefak dengan air laut, melakukan identifikasi dan klasifikasi temuan dengan menentukan nama artefak, pola hiasan dan ukurannya (tinggi, panjang dan diameter), labelling temuan, membungkus temuan dengan serat kain dan perendaman dengan air laut.
Kenapa harus direndam dalam air laut lagi benda temuan sudah cukup lama menyatu dengan lingkungannya tapi ketika dipindah ke lingkungan yang baru maka keseimbangan akan goyah.
"Benda itu harus direndam dulu di air laut jadi bukan langsung dicuci air tawar," kata Gatot.
Menurut Gatot, ada teori yang menyebut bahwa pada waktu pengangkatan benda temuan yang bersuhu dingin akan berkembang menjadi lembab kemudian kehadiran udara panas yang menyebabkan kelembaban menjadi kurang. Perubahan udara tersebut dapat membuat benda rapuh.
"Oleh karena itu benda temuan dikeringkan secara perlahan dengan cara benda tersebut tetap direndam di dalam air laut secara berangsur-angsur benda tersebut diencerkan air tawar untuk menghilangkan kadar garam," kata Gatot.
Setelah yakin kadar garam tidak ada, benda tersebut dibungkus dengan kain basah untuk jangka waktu tertentu agar proses adaptasinya dengan lingkungan baru dilakukan secara bertahap sehingga kestabilan benda dijaga dengan baik.
"Sesampai di gudang penyimpanan, harta tersebut tetap dirawat bagi benda yang rawan pecah ada penanganan khusus seperti ada alat penyesuaian temperatur," katanya.
(Sumber asli: www.antaranews.com)
Sabtu, 08 Mei 2010
Nasib Warisan Budaya di Tangan Siapa?
00.53 | Diposting oleh
MADYA |
Edit Entri
Penentuan nasib warisan budaya bukan saja merupakan tanggung jawab pemerintah, melainkan setiap warga negara (idealnya) juga berhak menentukan nasib sebuah warisan budaya. Bagaimana Anda, sebagai warga negara, bisa berpartisipasi dalam hal pelestarian warisan budaya?
Beberapa orang di kalangan pergerakan mempunyai bahasa yang terdengar rada menyeramkan, namun mau tak mau kita mengakui bahwa memang tak ada ungkapan lain yang lebih singkat, yang memuat seluruh nuansa yang ada dalam kata ini: KITA REBUT!
Rasa-rasanya, ada aroma kekerasan untuk menggunakan kata ini dalam konteks: tanah, lahan, tempat tinggal, dsb. Namun kita mengangkat derajat kata ini lebih baik ketika kita menggunakannya dalam konteks: pengelolaan situs, artefak, candi, dsb.
Pertanyaannya, bagaimana kita akan melakukannya?
Langganan:
Postingan (Atom)
Blog Archive
-
►
2013
(1)
- ► 02/10 - 02/17 (1)
-
►
2012
(2)
- ► 09/02 - 09/09 (2)
-
►
2011
(6)
- ► 10/23 - 10/30 (1)
- ► 05/22 - 05/29 (1)
- ► 05/08 - 05/15 (4)
-
►
2010
(51)
- ► 11/21 - 11/28 (1)
- ► 10/10 - 10/17 (1)
- ► 08/08 - 08/15 (2)
- ► 05/30 - 06/06 (1)
- ► 05/16 - 05/23 (2)
- ► 05/09 - 05/16 (13)
- ► 05/02 - 05/09 (31)



