Tari saman segera diakui oleh Unesco.
Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menyatakan tari saman yang berasal dari Gayo NAD yang ditarikan oleh para penari laki-laki telah didaftarkan dan segera diakui oleh Unesco.
"Jenis tari saman yang segera diakui Unesco adalah versi aslinya yang berasal dan dikembangkan di Gayo yang ditarikan oleh laki-laki," kata Direktur Jenderal Pemasaran Kemenbudpar, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Kamis.
Ia mengatakan, pihaknya melalui Direktorat Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) telah mengkaji dan melengkapi persyaratan pendaftaran tari saman agar dapat dikukuhkan sebagai warisan budaya oleh Unesco.
Setelah melalui berbagai proses, tari saman tersebut segera ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Unesco pada akhir tahun ini.
"Memang pada perkembangannya tari saman itu diadopsi dan dikembangkan namun tetap originalnya itu yang kami daftarkan," katanya.
Rencananya Tari Saman yang berasal dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) akan diakui dan dikukuhkan oleh badan PBB, UNESCO, sebagai warisan budaya dunia takbenda pada November 2011.
Dengan segera diakuinya Tari Saman maka sudah semakin banyak karya budaya bangsa Indonesia yang telah diakui UNESCO termasuk sebelumnya wayang, keris, batik, dan angklung.
Badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya (UNESCO) itu akan mengumumkan pengakuan terhadap Tari Saman sebagai intangible heritage di Bali.
Perjuangan untuk mendaftarkan tari saman tersebut telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu hingga akhirnya segera diakui masuk dalam "Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity".
Pihaknya mencatat warisan dunia sampai saat ini sudah sebanyak 890 situs dengan 689 berupa warisan budaya, 176 warisan alam dan 25 campuran antara warisan budaya dan warisan alam.
Di antara jumlah itu, warisan dunia yang dimiliki Indonesia sudah sebanyak 11 buah, 4 di antaranya berupa alam, 3 cagar budaya, dan 4 karya budaya takbenda.
Untuk warisan dunia berupa alam terdiri atas Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Lorentz, Papua dan hutan tropis Sumatra (Taman Nasional Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan).
Sementara untuk cagar alam yakni Kompleks Candi Borobudur yang diakui UNESCO sejak 1991, Kompleks Candi Prambanan (1991) dan situs prasejarah Sangiran.
Karya budaya takbenda milik Indonesia yang sudah dan akan diakui UNESCO yakni wayang (masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, 2003), keris (masterpiece of the oral and intangible heritage of humanity, 2005), batik (representatif list of the intangible cultural heritage of humanity, 2009) dan angklung (representative list of the intangible cultural heritage of humanity, 18 November 2010).
Terupdate|Terbaru|Terkini|Terakhir|Terpanas|free|download|gratis|2011
Situs Calon Arang Belum Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya
Kediri, - Polemik keaslian situs Calon Arang di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, terus berlanjut. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan menyatakan situs tersebut belum menjadi cagar budaya karena tidak ada kajian arkeologi yang kuat. Kepala BP3 Trowulan, Aris Soviyani, mengatakan situs berupa umpak yang terdapat di tengah areal persawahan itu hingga kini masih belum jelas. Tim arkeologi BP3 Trowulan telah melakukan penyelidikan di lokasi penemuan dan tidak menemukan petunjuk yang kuat. "Kami merekomendasikan pemda Kediri untuk melakukan kajian atas situs itu," kata Aris, Kamis, 28 April 2011.
Kajian tersebut, menurut Aris, untuk menentukan status situs, apakah merupakan peninggalan tempat peribadatan, altar, ataukah tempat hunian. Arkeolog BP3 Trowulan sendiri mengaku kesulitan melacak situs itu karena banyaknya bagian bangunan yang hilang.
Selain melakukan kajian sejarah, surat rekomendasi BP3 kepada Pemkab Kediri yang diberikan pekan lalu memerintahkan penelusuran kepemilikan lahan. Sebab, saat ini banyak warga yang mengatakan situs itu berdiri di atas lahan bebas dan tidak menjadi milik perseorangan. "Kalau memang situsnya jelas, Badan Pertanahan Nasional akan menerbitkan sertifikat khusus sebagai tanah purbakala," kata Aris.
Kepala Bagian Humas Pemkab Kediri, Edi Purwanto, mengatakan pemerintah daerah telah melaksanakan rekomendasi itu dengan meminta bantuan peneliti Yogyakarta. Jika memang situs itu memiliki keterkaitan dengan legenda Calon Arang asal Bali, Pemkab Kediri akan melakukan pembangunan. "Kita tunggu hasilnya dulu," katanya.
Sutjahjo Gani, salah seorang budayawan Kota Kediri, mengatakan tempat tersebut pernah didatangi para ahli sejarah dan budayawan dari Bali. Di antaranya adalah tim dari Yayasan Prof. DR. Wyn Mertha Suteja, SH, PhD, yang ingin membuktikan keterkaitan antara situs tersebut dengan dramatari kolosal Calon Arang yang selama ini diklaim sebagai kesenian asli Bali. "Ini membuktikan akan kalau Calon Arang memang berasal dari Kediri," ujar Gani.
Terupdate|Terbaru|Terkini|Terakhir|Terpanas|free|download|gratis|2011
Budaya Potong Jari di Wamena Papua
Jika salah satu bagian dari keluarga kita ada yang meninggal dunia, paling paling kita hanya menangis 7 hari 7 malem aja paling lama. Atau teriak teriak kayak orang kesetanan. Tapi lain halnya dengan masyarakat pengunungan tengah Papua (Wamena).
Ungkapan kesedihan akibat kehilangan salah satu anggota keluarga tidak hanya dengan menangis saja. Mereka melumuri tubuhnya dengan lumpur dan yang paling sadis, mereka juga harus memotong jari tangannya. sebuah tradisi dari masyarakat yang tidak mengenal pengetahuan.

Hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh para Yakuza (kelompok orangasasi garis keras terkenal di Jepang) jika mereka telah melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi atau gagal dalam menjalankan misi mereka. Sebagai ungkapan penyesalannya, mereka wajib memotong salah satu jarimereka. Bagi masyarakat pengunungan tengah, pemotongan jari dilakukan apabila anggota keluarga terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, kakak, atau adik meninggal dunia.
Pemotongan jari ini melambangkan kepedihan dan sakitnya bila kehilangan anggota keluarga yang dicintai.
Ungkapan yang begitu mendalam, bahkan harus kehilangan anggota tubuh. Bagi masyarakat pegunungan tengah, keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Bagi masyarakat Balim Jayawijaya kebersamaan dalam sebuah keluarga memiliki nilai-nilai tersendiri.

Pemotongan jari itu umumnya dilakukan oleh kaum ibu. Namun tidak menutup kemungkinan pemotongan jari dilakukan oleh anggota keluarga dari pihak orang tua laki-laki atau pun perempuan. Pemotongan jari tersebut dapat pula diartikan sebagai upaya untuk mencegah 'terulang kembali' malapetaka yang telah merenggut nyawa seseorang di dalam keluarga yang berduka.
Pemotongan jari dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang memotong jari dengan menggunakan alat tajam seperti pisau, parang, atau kapak. Cara lainnya adalah dengan mengikat jari dengan seutas tali beberapa waktu lamanya sehingga jaringan yang terikat menjadi mati kemudian dipotong.
Namun kini budaya 'potong jari' sudah ditinggalkan. sekarang jarang ditemui orang yang melakukannya beberapa dekade belakangan ini. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh agama yang telah masuk hingga ke pelosok daerah di Papua.
Tapi di sebagian tempat masih dapat kita jumpai saat ini yaitu mereka yang masih tinggal di pedalaman hutan Papua.
Terupdate|Terbaru|Terkini|Terakhir|Terpanas|free|download|gratis|2011
Candi Borobudur Saat Ditemukan dan sekarang

Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia yang berada di Indonesia. Bangunan kuno ini begitu banyak menyimpan sejarah. Mulai dari sejarah dibangunnya hingga terbenam akibat letusan gunung berapi dan pada akhirnya ditemukan kembali ke permukaan. Saya memposting artikel ini terinspirasi dari salah satu komentar yang bertanya "Siapa yang membangun Borobudur?". Sebenarnya sejarah ini banyak diceritakan dalam buku dan di dunia maya. Berikut Sejarahnya;
Borobudur terletak di pulau Jawa, berjarak 40 km sebelah barat laut kota Yogyakarta, Bangunan kuno ini merupakan stupa tertua dan juga kompleks stupa terbesar di dunia. Namanya tercatat sebagai pewarisan budaya dunia oleh UNESCO dan dianggap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Borobudur didirikan pada abad ke 8 dan 9, kemungkinan oleh dinasti Syailendra yang kala itu memerintah pulau Jawa, pembangunan proyek tersebut berlangsung selama 75 tahun.
Konon raja Asoka-India pernah membagi relik (salira) dari Buddha Sakyamuni menjadi 84.000 butir dan menyebarkan serta menguburnya di seluruh pelosok dunia. Demi menyimpan sarira asli dari Buddha Sakyamuni, kerajaan Syailendra telah memobilisasi beberapa puluh ribu orang, barulah menyelesaikan bangunan indah nan megah dan berskala besar tersebut.
Borobudur berbentuk piramida berundak, terbagi atas 9 lapis lantai, 6 lantai bagian bawah berbentuk platform bujur sangkar, lingkaran terluarnya dipenuhi dengan galeri relief, merupakan gudang pusaka seni pahat yang tersohor di dunia, dengan panjang seluruhnya mencapai 2,5 km, sehingga Borobudur bersama dengan piramida Mesir, Tembok Besar-Tiongkok dan Angkor Wat-kambodja dinamakan sebagai 4 keajaiban kuno dari timur. Ia tersusun oleh 1.600.000 buah batu cadas gunung berapi dan dibangun di atas bukit cadas kerdil dengan 265 m ketinggian dari atas permukaan laut, adalah stupa Buddha tunggal terbesar di dunia. Asal muasal nama "Borobudur" diperkirakan dari bahasa Sansekerta yakni "Vihara Buddha Ur", yang bermakna "kuil Buddha dari puncak gunung".
Sebuah patung Buddha dengan posisi simpul tangan/mudra: Mudra Memutar Roda Hukum / Dharmacakramudra. (wikipedia)
Saat Ditemukan
Pada 1006 dalam sebuah letusan dahsyat gunung berapi, Borobudur terkubur di bawah berlapis-lapis abu gunung berapi, situs kuno agama Buddha yang terkubur dan terlelap dalam tidurnya hingga pada suatu hari di tahun 1814 baru ditemukan kembali dari balik lebatnya hutan belantara tropis. Kala itu Raffles wakil gubernur Inggris untuk Jawa yang sedang menduduki pulau Jawa, mendengar cerita para pemburu dan penduduk tentang sebuah candi besar yang tersembunyi di dalam hutan belantara, maka ia mengutus insinyur WN-Belanda untuk melakukan survey, akhirnya Borobudur melihat kembali sinar sang surya. Pada 1973 melalui bantuan Unesco, yang melancarkan restaurasi berskala besar barulah Borobudur memancarkan wajahnya seperti yang terlihat hari ini.Kenapa Borobudur 100 tahun setelah selesai dibangun orang-orang Jawa tidak berkunjung lagi ke tempat tersebut, bahkan telah mencampakkan komplek tersebut, hingga kini masih saja merupakan sebuah misteri.
Relief Menunjukkan Taraf Alam Tiga Dunia
Karakter manusia di dalam tiga dunia agama Buddha, Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu yang terpampang pada relief.

borobudur 1890-1915
borobudur tahun 1915-1920
borobudur tahun 1920-1938
borobudur tahun 1938-1952
Terupdate|Terbaru|Terkini|Terakhir|Terpanas|free|download|gratis|2011
Mempertanyakan Objektivitas Media

-- Pertarungan Objektivitas dan Kearifan Media
Seperti juga buku-buku terdahulu, kali ini sang penulis akan tetap dengan gaya bertuturnya untuk mengungkapkan delapan kekeliruan media dalam memilih dan mengemas tema kasus video porno itu. Nantikan!
Jatinangor Festival
Menarik disimak, dari pasukan per desa adalah kelompok kesenian kuda lumping. Hampir setiap RW masing-masing desa memiliki kelompok kesenian kuda lumping, dan pada saat karnaval tersebut terjadi kerasukan/kesurupan. Hal tersebut disebabkan irama musik yang mengiringi mempunyai kekuatan magis, selain itu siapapun dilarang bergabung dalam kelompok tersebut jika bukan anggotanya. Hal yang menarik lainnya adalah kreativitas pada pasukan drum band, meskipun dengan berpakaian seragam drum band namun peralatan yang digunakan sangat sederhana yaitu dengan menggunakan galon aqua dengan dihiasi rumbai-rumbai dari kertas warna-warni.
Barisan karnaval tersebut selain menyuguhkan aktivitas pedesaan juga beberapa menampilkan fenomena sosial yang sedang hangat di masyarakat. Fenomena sosial tersebut antara lain tentang kumpul kebo dan Aa’ Gym yang berpoligami, selain itu juga tentang merabahnya penyakit flu burung.
Jatinangor Festival ini puncaknya adalah pada penilaian dan kejuaraan pasukan per desa yang dilakukan di Lapangan, Ciawi. Biasanya puncak acara diadakan di Gerbang UNPAD, namun berhubung UNPAD tidak dapat digunakan karena adanya aktivitas sehubungan dengan mahasiswa baru maka tempat dialihkan ke Lapangan Ciawi.
Jatinangor Festival ini merupakan nilai-nilai budaya yang mentradisi dan perlu dilestarikan. Hal tersebut sehubungan dengan perkembangan sosial-budaya yang dapat dikaji perkembangan dan kreativitasnya di masa mendatang. Kekerabatan dan fenomena sosial yang berlangsung pun dapat terjabarkan dalam peragaan karnaval tersebut.
Ritual Balimau Masyarakat Sumatera Barat
Sebagai gambarannya bisa dipetik dari makna ungkapan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai. Maksudnya, hukum adat berdasarkan hukum agama, hukum agama berdasarkan Al-Quran. Ketentuan adat dan tradisi di sana tak boleh bertentangan dengan hukum agama. Itulah sebabnya, tradisi yang tak bertentangan dengan agama tetap hidup.
Kendati demikian ada juga tradisi yang masih hidup kendati sudah melahirkan pro dan kontra. Salah satunya adalah Tradisi Balimau yang biasanya dilakukan sehari sebelum masuk ramadhan. Menjelang sore, warga mandi masal di sungai dan danau. Sungai Batang Kalawi, Lubuk Minturun, Lubuk Paraku, Lubuk Hitam dan Kayu Gadang, adalah lokasi favorit mandi Balimau ini.
Sejumlah penduduk bahkan membawa daun pandan, buah limau, bunga mawar, kenanga, dan melati. Semua bahan balimau dimasukkan ke wadah berisi air dan dengan air inilah mereka mandi lalu bercebut ke dalam sungai. Ini bak mandi kembang yang menebar keharuman.
Konon, dari sinilah muncul istilah Balimau. Mereka percaya, mandi ini selain membersihkan juga menyucikan diri. Bahkan setelah mandi mereka juga saling bermaaf-mafan. Ini dilakukan agar mereka nyaman saat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan.
Memang dalam Islam tak ditemukan ajaran seperti Balimau ini. Itulah sebabnya, tradisi ini sempat melahirkan kecaman dari tokoh agama di Padang. Tradisi ini dinilai peninggalan Hindu yang umatnya mensucikan diri di Sungai Gangga, India.
Balimau dianggap mirip dengan Makara Sankranti, yaitu saat umat Hindu mandi di Sungai Gangga untuk memuja dewa Surya pada pertengahan Januari, kemudian ada Raksabandha sebagai penguat tali kasih antar sesama yang dilakukan pada Juli-Agustus, lalu Vasanta Panchami pada Januari-Februai sebagai pensucian diri menyambut musim semi.
Namun, niat menyucikan yang dilakukan warga Minang tentu saja berbeda dengan umat Hindu. Tak ada pula pelarangannya. Apalagi dalam tradisi ini juga ada sentuhan ke-Islam-an, yaitu beramaaf-maafan menjelang ibadah puasa.
Hanya saja yang menjadi masalah, saat Tradisi Balimau berlangsung kerap terjadi perbuatan yang dinilai maksiat. Misalnya, ada yang menjadikan Tradisi Balimau sebagai ajang pacaran. Bahkan tak sedikit lelaki yang memelototi tubuh wanita yang lekuk tubuhnya terlihat jelas sebab badannya terbalut kain basah.
Kelakuan sebagian orang itulah yang membuat tokoh agama di Minang meradang, sehingga menuding Tradisi Balimau lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Sehingga tokoh agama ada yang menentang tradisi terus dihidupkan. Sebab, mereka menilai tradisi itu sudah tak sejalan dengan filosofi “adat bersendikan syarak”.
Sebenarnya tradisi mandi suci menyambut ramadhan ini bukan hanya terjadi di Tanah Minang saja. Di sejumlah daerah juga melakukan hal yang sama. Misalnya warga Riau melakukannya di Sungai Kampar. Istilahnya juga mirip dengan di Minang, yaitu Balimau Kasai.
Di kawasan Jawa, tradisi mandi suci disebut dengan Padusan. Ini dilakukan di setiap pelosok kampung. Juga dilakukan sehari menjelang ramadhan. Padusan adalah simbol mensucikan diri dari kotoran dengan harapan bisa menjalankan puasa dengan diawali kesucian lahir dan batin. Tempat mandi yang dicari adalah yang alami. Sebab mereka percaya sumber air yang alami adalah air suci yang menghasilkan tuah yang baik.
Disadur dari : Ramadhan Mubarak
In Memoriam: Rasinah

Rasinah lahir di Desa Pekandangan, Indramayu, Jawa Barat. Kedua orangtuanya juga seniman. Karena itu, darah seni pun mengucur deras di dalam nadinya. Sejak kecil ia telah diajari menari lengkap dengan aturan-aturan “mistis”nya. Bahkan, ia pun telah “diamenkan” di panggung-panggung hajatan (bebarang), untuk menegaskan suratan hidupnya yang seniman.
Masa kanak-kanak dan remaja Rasinah hanyalah tarian. Gejolak hidup Rasinah muda hanyalah panggung-panggung hajatan, lengkap dengan suara tetabuhannya. Sehingga, di luar tari Topeng Indramayu, sungguh ia bukanlah apa-apa. Ia adalah cerminan “anak wayang” yang sepanjang hidupnya lebih diberikan untuk panggung dan penonton. Ia sama sekali tidak mengenal hal lain di luar dunia itu. Misal, dunia sekolah atau menikmati keceriaan seperti kaum remaja sebayanya.
Keteguhan Rasinah untuk terus konsisten di jalurnya bukan tidak dihadang masalah. Pergeseran selera masyarakat dari kesenian tradisional ke kesenian yang lebih modern membuat Rasinah —dan seniman tradisional pada umumnya— terkena imbas besar. Mereka kehilangan panggung-panggung hajatan, lahan untuk mengekspresikan kesenimanannya, dan tentu saja, nafkah!
Masa-masa sulit seperti itu dirasakan benar oleh Rasinah. Terlebih setelah ayah dan ibunya meninggal. Ia memang anak tunggal. Sehingga, ia harus menggantungkan hidupnya pada sang suami. Ia nyaris tidak memiliki kesempatan untuk menari. Lantaran tidak ada lagi yang mengundangnya.
Dan dalam kesendirian dan keterasingan, ia hanya memasrahkan hidupnya pada Yang Mahamandiri. Ia tidak berani lagi menghitung-hitung suratan nasib di depannya. Karena, ia sadar bahwa ia hanyalah seniman tradisional, dengan segala keterbatasannya. Untuk beralih pada sumber penghidupan yang lain, ia juga merasa tidak bisa. Sehingga, ia pun hanya bisa menari di rumahnya.
Kerap, ia menari ditemani cucunya, Aerli. Dan, dengan sisa gendang, saron, dan gong, warisan dari ayahnya, ia juga coba ajarkan pada cucunya yang lain, Edi. Saat itu, ia memang tengah mencoba menitiskan bakat berkeseniannya kepada kedua cucunya. Cara itu ditempuh oleh Rasinah, agar ia tetap memiliki semangat untuk menari.
Tari Topeng Indramayu adalah satu-satunya harta karun yang dimilikinya. Sehingga, hanya dengan “benda” itulah ia bisa mewariskannya kepada keturunannya. Di benaknya hanya terlintas satu niat, agar hidup yang pahit itu bisa dijalani dengan keceriaan sambil membagi-bagikannya kepada orang terdekat.
Bangunan semangat untuk bertahan dan berbagi, serta kepasrahan untuk menyerahkan segala-galanya kepada Dzat Yang Mahasempurna, akhirnya berbuah kebahagiaan. Ketabahan dan kegigihan untuk terus berkesenian secara bersahaja membuahkan perhatian pihak lain.
Minat kalangan pemerhati kesenian itu yang bertekad merevitalisasi kesenian tari Topeng Indramayu menebarkan manisnya juga untuk Rasinah. Ia pun diminta untuk menari di berbagai tempat. Bukan sekadar panggung-panggung hajatan di kampung-kampung. Tapi, termasuk juga pentas-pentas di gedung-gedung kesenian di
Saat itu, ia hanya berkeyakinan bahwa pihak-pihak yang tiba-tiba peduli kepada dirinya dan tari Topeng Indramayunya adalah tangan-tangan Tuhan. Ya, cerminan sifat Rahman dan RahimNya. Gerbang kemuliaan memang tengah membuka di hadapannya.
Gubuk yang tadinya nyaris runtuh karena tidak pernah mendapat perhatian, perlahan-lahan ia bangun kembali. Bahkan, ia pun berhasil membangun sanggar sederhana di pinggaran rumahnya. Teman berlatihnya pun bukan hanya Aerli, cucunya. Tapi, anak-anak lain pun berdatangan untuk meminta “harta karun” yang dimilikinya. Seiring dengan itu, panggilan-panggilan untuk menari pun tidak pernah lagi berhenti.
Maka, Rasinah yang oleh murid-muridnya dipanggil Mimi (nenek) telah mendapati kegemilangan nan tiada
Hingga akhir t2007, ia masih menari bersama murid-muridnya, menari di panggung-panggung hajatan, sambil sesekali turun ke panggung untuk mengharapkan saweran. Ia terus menari dengan suasana keceriaan. Bahkan, ia juga bertekad untuk mati di atas panggung.
Tekad itu dibuktikan, ketika penyakit stroke menghajarnya di awal 2008, ia tetap saja mengajarkan tarian itu di sanggarnya. Meskipun, saat itu hanya menggunakan isyarat tangan dan mata sebagai cara memberikan pengarahan kepada murid-muridnya.
Istiqomah Rasinah untuk terus menekuni tari Topeng Indramayu, memang berbuah kemuliaan pula pada perjalanan hidupnya. Ia dihargai dan dimuliakan oleh orang lain, karena kesungguhan untuk terus bersabar dan bersyukur atas apa-apa yang didapatnya, seraya memasrahkan semuanya kepada Yang Mahamengatur.
Ahad jelang Ramadhan kemarin, ia harus mengakhiri seluruh pentas kehidupannya. Usia renta dan kerapuhan tubuh memang tidak mampu lagi menopang semangat jiwanya yang senantiasa menggelora. Hal itu dibuktikan dengan penampian pamungkasnya beberapa pekan lalu di sebuah acara di
Rasinah memang tidak wafat di atas pentas —seperti keinginannya semasa hidup. Ia terbaring kaku di kamar kecilnya di Desa Pekadangan, Indramayu, Jawa Barat. Beberapa saat berikutnya, ia beristirahat tenang bersama suami, orangtua, dan buyut-buyutnya yang seniman Topeng Indamayu, di Pemakaman Seniman di desa itu.
Catatan kecil yang tak pernah terhapuskan, saya pernah memintanya menarikan Tari Panji di tempat itu enam tahun silam. Dengan sentuhan artistik lokasi dan kharismanya, tarian itu masih membekas dan menyimpan kekuatan magisnya di mata saya. Selamat jalan, Mimi….[]
Blog Archive
-
►
2013
(1)
- ► 02/10 - 02/17 (1)
-
►
2012
(2)
- ► 09/02 - 09/09 (2)
-
►
2011
(6)
- ► 10/23 - 10/30 (1)
- ► 05/22 - 05/29 (1)
- ► 05/08 - 05/15 (4)
-
►
2010
(51)
- ► 11/21 - 11/28 (1)
- ► 10/10 - 10/17 (1)
- ► 08/08 - 08/15 (2)
- ► 05/30 - 06/06 (1)
- ► 05/16 - 05/23 (2)
- ► 05/09 - 05/16 (13)
- ► 05/02 - 05/09 (31)
